Bercengkrama dengan Dinginnya Lawu

Melewatkan malam di Lawu akhirnya tercapai juga, setelah tertunda cukup lama. Dampak dari main ke Cikuray juga sebenarnya, karena di sana saya bertemu dengan teman baru yang (katanya) tinggal di kaki Gunung Lawu. Setelah melakukan beberapa perencanaan, saya menghubunginya untuk memastikan keberangkatan. Awalnya saya berpikir bisa mengumpulkan beberapa orang untuk teman perjalanan, namun kenyataan berkata lain, jadilah saya hanya mengajak dua adik saya, Reza dengan sedikit paksaan dan Cici yang memang sangat berkeinginan pergi ke sana. April lalu tepatnya senin (20/4), saya dan Cici berangkat dari Purwokerto ke Klaten untuk singgah sejenak ke rumah Mbah sedangkan Reza berangkat dari Yogyakarta. Kami bertiga berkumpul di Klaten dan memulai perjalanan ke Lawu keesokan harinya.

Dari Klaten, kami berangkat pagi sekitar pukul setengah tujuh menggunakan bis menuju Terminal Solo, dilanjutkan dengan bis menuju Tawangmangu. Sesampai di Tawangmangu, kami berbelanja kebutuhan logistik sejenak kemudian naik elf putih untuk sampai ke basecamp Cemoro Sewu. Selain elf, bisa juga menyewa ojek. Untuk mendaki Lawu, ada beberapa alternatif jalur, hanya tiga yang saya tahu yaitu Cemoro Kandang, Cemoro Sewu dan Candi Cetho. Sebelum memutuskan melalui jalur Cemoro Sewu, saya sangat penasaran dengan jalur Candi Cetho dan ingin mencobanya, karena dari hasil riset berselancar internet, jalur tersebut menawarkan pemandangan yang sangat cantik ditambah bisa mampir berwisata dahulu di Candi Cetho. Namun, ketika teman saya menceritakan untuk melalui jalur tersebut membutuhkan waktu sekitar 17 jam dengan medan yang cukup melelahkan, saya urung. Cemoro Sewu terletak di perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Timur, sekitar beberapa ratus meter sebelah timur Cemoro Kandang.

pintu masuk cemoro sewu

Pintu masuk Cemoro Sewu

Selepas dhuhur, pendakian dimulai dengan total enam personil setelah ditambah tiga teman saya, satu diantaranya sudah saya kenal sebelumnya di Cikuray yang merupakan penunjuk jalan sekaligus ketua tim. Medan Cemoro Sewu memang dikenal lebih bersahabat daripada yang lain, benar saja, saya sering bertemu dengan para pendaki yang hanya bermodalkan seadanya, tidak sedikit pula saya temui bapak-bapak paruh baya yang baru turun dari puncak bahkan dalam perjalanan turun saya sempat bertemu seorang bapak tua yang mendaki sendirian. Mungkin karena Lawu juga merupakan gunung yang sering didaki, apalagi saat malam satu suro, kepercayaan masyarakat setempat pada malam tersebut diperingati berbagai kalangan dengan mendaki hingga puncak gunung dengan tujuan untuk mencari berkah. Namun, semua yang terlihat mudah, ternyata tidak selamanya benar-benar mudah.

Untuk mencapai tempat camp, kami menempuh waktu hampir sebelas jam padahal diperkiraan hanya akan memakan waktu delapan jam itu pun jika berjalan sangat santai. Nampaknya saya dan adik bungsu saya menjadi faktor mengapa pendakian kami menjadi sangat lambat, hahaha. Kami melewatkan malam tepat di dekat sebuah sendang , tepatnya di depan (dan di dalam) sebuah warung. Lokasinya bersebrangan dengan warung Mbok Yem yang lebih dikenal. Saya dan kedua adik saya memutuskan untuk menginap di dalam warung, karena masih banyak space tersisa di dalam dan sungguh kami tidak tahan dengan hawa dingin di luar, sedangkan tiga orang yang lain tetap bermalam di tenda, tidak seru katanya kalau tidur di dalam. Beberapa rombongan sebelum kami pun banyak yang memutuskan untuk pindah ke dalam padahal sudah mendirikan tenda. Alhasil, banyak tenda yang kosong. Memang malam itu angin berhembus cukup kencang, dan berkali-kali terdengar gemuruh dari langit, alhamdulillaah tidak sampai turun hujan.

sumur

Sendang Drajat

tempat nginap

Warung tempat saya bermalam

tenda

Satu-satunya tenda yang berpenghuni di depan warung

 Dini hari, kami terbangun dan salah satu teman saya mengajak keluar untuk melihat langit yang bertabur bintang. Berhubung kedinginan, saya hanya keluar sebentar. Dan kembali masuk ke dekapan sleeping bag. Setelah subuh, kami bersama beberapa rombongan lain berangkat summit. Prediksi waktu tempuh hingga puncak Hargo Dumilah sekitar tiga puluh menit.

DSC_9202

Lihat langitnya (abaikan model). Photo credit by Pyuur

Kondisi puncak saat itu sangat berkabut, dan kami pun tidak mendapatkan view terbaik dari puncak Gunung Lawu. Namun, apapun kondisinya bagi kami ini tetaplah sebuah pencapaian yang sedikit mengecewakan. Setelah melihat semburat jingga matahari yang mulai menampakkan diri, kami berdiam sejenak di puncak menikmati hembusan angin yang bukan sepoi-sepoi. Beberapa pendaki pun berebut untuk mengabadikan gambar dirinya beserta kertas ucapan, termasuk kami, tapi tenang kami bawa turun kembali sampah kertasnya kok! Bungkusan-bungkusan snack pun tersimpan rapi di saku jaket saya.

sunrise 2

Cahaya jingga matahari yang berpendar, sedikit menghibur kami

the team at puncak

The team after summit! (Dika-Cici-Reza-Shodiq-Yazid-Pyur) Photo credit by Pyuur

tugu lawu 1

Tugu puncak Hargo Dumilah 3265 mdpl

Puas menikmati suasana puncak, kami kembali ke warung untuk sarapan kemudian berkemas dan bergegas pulang, rencananya begitu. Realisasinya, setelah sarapan, beberapa dari kami (tidak termasuk saya) tidur sejenak yang ternyata hingga hampir lewat tengah hari. Sementara saya dan kedua adik saya menikmati suasana hijau pegunungan.

sdaritempatinap

Pemandangan dekat tempat bermalam. Hijau itu menyegarkan!

Hari semakin siang, adik saya pun akhirnya membangunkan teman-teman yang masih menikmati tidurnya, maklum sepertinya mereka tidak cukup tidur. Kami berkemas dan berangkat kembali menjelang dhuhur. Banyak pemandangan yang baru kami lihat saat perjalanan turun yang semuanya tidak dapat kami nikmati ketika pendakian karena melewatinya saat malam hari. Ternyata ada secuil sabana cantik.

secuil sabana

Secuil sabana (untuk kedua kalinya, abaikan model)

Oh, iya, selama perjalanan kami banyak menemui burung Jalak Lawu dan satwa sejenis monyet berwarna hitam.

sjalak lawu

Turdus poliocephalus stresemanni Bartels alias Jalak Lawu. Photo credit by Pyuur

Kami sampai di basecamp Cemoro Sewu sekita pukul lima sore kemudian kami singgah sejenak di sebuah rumah milik kenalan Mas Pyur untuk beristirahat dan makan. Karena hari sudah sore dan tidak ada ojek ataupun angkutan bersama lainnya, saya dan kedua adik saya menyewa sebuah elf untuk menuju Solo dengan harga sedikit miring karena bantuan lobi dari pemilik rumah. Sedangkan tiga orang sisanya, mereka membawa sepeda motor sendiri dari Jogja dan Karanganyar, kami pun berpisah. Setelah maghrib, saya berangkat ke Solo dengan sambutan guyuran hujan yang sangat deras selama perjalanan. Sampai di Solo, masih hujan, dilanjutkan dengan bis menuju Klaten.

Waktu kecil sering bawa adik main kemana-mana, sudah besar pun terkadang juga begitu. Dulu saya paling tidak suka pergi membawa adik, sekarang sudah tidak lagi, mereka sudah bisa mengurus diri sendiri walaupun terkadang masih merepotkan.

“When everything goes to hell, the people who stand by you without flinching, they are your family. ”― Jim Butcher

Advertisements

About dikabeast

A complex mind in plain personality
This entry was posted in Sharing and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s