Bersama Kesulitan Ada Kemudahan, Kemudahan

hujanBeberapa hari yang lalu ketika membongkar tas, tidak sengaja menemukan beberapa lembar kertas yang telah lusuh bekas terkena air hujan. Catatan menghadiri Majelis Jejak Nabi Bandung pada 24 Januari 2015 dan sayang rasanya untuk tidak dirangkum, saat itu menulis di kertas pemberian dari orang karena tidak membawa buku dan sekenanya saja disisipkan di dalam tas, daripada dibuang padahal materinya bagus, sayang kan. Tulisan kali ini ada beberapa bagian dan bisa jadi tidak saling terkait masing-masingnya. Inti dari kajian yang dipaparkan Ustadz Salim A. Fillah kala itu adalah pembahasan tentang salah satu surat di dalam Al-Qur’an yaitu Al Insyirah, dengan selingan-selingan cerita sejarah.

Kedatangan Hidayah

Biasanya hidayah itu datang dalam keadaan emosional dan akan diuji dengan akal rasional. Seperti kisah Hamzah, paman Rasulullah, yang membela keponakannya dari siksaan Abu Jahal dan kemudian bersyahadat. Sesuatu yang rasional membuat kita kembali ke titik netral.

Kemudian kisah tentang khalifah yang favorit saya, yaitu Umar bin Khatab. Sebelum Umar masuk masuk Islam, Ummu Salamah ra sempat memiliki keyakinan bahwa dia akan menjadi bagian dari Islam, yang disampaikannya kepada Abu Salamah ketika akan berhijrah ke Habbasyah. Umar memusuhi Rasulullah bukan karena dendam pribadi atau motif-motif kedengkian antar kabilah dan lain sebagainya, namun karena Rasulullah dianggap telah menyebabkan kekacauan di kota Makkah serta merusak hubungan banyak keluarga (karena ajaran Islam). Kisah Umar mendapatkan hidayah ini pun tidak lepas dari keadaan emosional. Saat itu, Umar mencari Rasulullah untuk membunuhnya namun dalam perjalanannya dia berbelok ke rumah Fatimah dan Sait bin Zaid karena mendengar adiknya itu menjadi pengikut Rasulullah, setelah itu seperti yang kita tahu ceritanya Umar mendengar bacaan Al-Qur’an dan marah luar biasa. Dalam keadaan emosional kemudian Umar mendatangi Rasulullah, namun singkat cerita dia masuk Islam dan semakin menambah tingkat percaya diri kaum muslimin.

Sedikit kilas balik, dahulu saya pun merasa emosional ketika diwajibkan harus berjilbab syar’i saat ospek. Namun lama-kelamaan saya menemukan titik netral saya.

Tentang Dengki dan Hasad

Perkara ini adalah perkara hati dan hanya kita yang tahu bagaimana keadaan hati kita. Berikut tingkatan dengki dan hasad mulai dari yang terendah.

  1. Tidak senang orang lain mendapat nikmat
  2. Tidak senang orang lain mendapat nikmat dan ingin menghilangkannya
  3. Tidak senang orang lain mendapat nikmat dan ingin menghilangkannya dan ada usaha untuk menghilangkannya
  4. Tidak senang orang lain mendapat nikmat dan ingin menghilangkannya dan ada usaha untuk menghilangkannya dan memindahkannya pada diri sendiri

Jujur, bagi saya menghilangkan penyakit ini bukanlah hal yang mudah, apalagi secara manusiawi kita akan setidaknya pernah terbersit perasaan seperti itu. Namun menjadi seorang da’i, pekerjaan rumah utama adalah menghilangkan kedua penyakit ini di dalam dada kita. Menghilangkan hil (tersinggung), dendam dan hasad sebelum tidur dengan memaafkan. Tidak lucu jika menjadi da’i tapi mudah tersinggung, bisa sakit hati terus-terusan.

Hasad sangat berbahaya untuk urusan akherat apalagi hanya untuk urusan dunia. Berikut dua contoh hasad.

  1. Iblis

Iblis iri kepada Adam karena merasa Adam lebih dicintai Allah, Iblis ingin Allah lebih cinta kepadanya. Bayangkan, bahkan Iblis iri karena ingin Allah lebih mencintainya, urusan akherat bukan? Hasil dari itu Iblis dilaknat seumur hidup, hanya karena iri dan sombong tidak mau bersujud kepada Adam.

  1. Dengki pada 2 anak Adam

Masih ingat kisah pembunuhan yang dilakukan oleh manusia pertama? Biasanya kisah yang santer diketahui, pertengkaran disebabkan oleh pernikahan yang tidak sesuai keinginan, padahal sebenarnya bukan karena itu namun karena yang satu kurbannya diterima dan yang satu tidak.

Kedua contoh tadi, keduanya dengki dalam urusan akherat saja berbahaya, apalagi untuk urusan-urusan duniawi yang tidak penting.

Diibaratkan buah seorang da’i seharusnya seperti buah manggis.

Durian : keras di luar, lembut di dalam (tidak ra’fah tapi rahmah)

Manggis : di luar lembut, di dalamnya juga lembut (ra’fah juga rahmah)

Kedondong : lembut di luar saja, di dalamnya menusuk-nusuk (penjilat)

Dan jika ingin sempurna berdada lapang, selain dengki, hasad dan bikhl yang perlu dihilangkan juga yaitu hazn atau kesedihan.

Ada potongan kata-kata yang bagus dari Ustadz Salim,

“Jangan terlalu pintar, tapi mau ngaji.”

“Jangan terlalu kaya, tapi mampu berinfak paling banyak.”

“Jangan terlalu sering tampil, tapi doanya mustajab.”

“Jangan teralu sering bicara, tapi sekali bicara orang langsung dapat hidayah.”

Tahun ke- 7 Kenabian

Pada masa ini adalah episode yang paling berat bagi kaum muslimin dan juga Rasulullah, yaitu pemboikotan dikenal pula dengan tahun kesedihan. Bahkan Bani Mutholib, ikut merasakan penderitaannya padahal belum masuk Islam. Pada proses pemboikotan itu turunlah surat Al Insyirah untuk membahagiakan kaum muslimin dan Rasulullah.

  • Bahasan ayat 1-3

Tentang kelapangan dada Rasulullah dan dilepaskannya beban. Beban-beban yang dilepaskan :

  1. dosa
  2. beban Risalah. Maksudnya kewajiban Rasulullah hanya menyampaikan saja.
  3. Beban pembinasaan umatnya dengan azab seperti umat-umat sebelumnya dan menjadikan Rasulullah rahmat untuk umat. Azab kaum Rasulullah yang ingkar ditangguhkan hingga akherat. Jadi, jika ada kejadian di dunia saat ini disebut “fitnah” karena kalau azab pasti semua yang beriman selamat dan yang ingkar habis. Sedangkan saat ini jika terjadi bencana, tidak hanya orang ingkar yang terkena ada juga orang mukmin sehingga lebih tepat menyebutnya fitnah.
  • Bahasan ayat 4

Tentang meninggikan sebutan untuk Rasulullah, yaitu :

  1. Syahadat ada kesaksian tentang Rasulullah yang tidak ada di syahadat nabi sebelumnya.
  2. Shalawat Rasulullah.
  3. Dijadikan uswatun hasanah mutlak sebagai seorang nabi dan rasul tanpa kecuali. Jadi tidak ada yang salah meniru apapun yang ada pada Rasulullah, misalnya pada pria meniru cara berpakaian, itu sah-sah saja.
  4. “Muhammad” sendiri artinya terpuji. Jadi kalau ada yang menghina, dengan menyebut Muhammad saja sudah termasuk memuji.
  • Bahasan ayat 5-6

Intinya, kalau ada sebuah kesulitan masuk lubang maka Allah akan memberikan kemudahan dalam lubang itu dan juga akan ada kemudahan lagi di luar lubang.

Iklan apa yang paling kreatif? Iklan rokok karena dibatasi. Jadi kalau mau kreatif, batasi diri kita dengan kesulitan-kesulitan. Dalam ayat ini, satu kesulitan definitif dilawan dua kemudahan yang infinitif, artinya kemudahan yang bisa jadi tidak disangka-sangka oleh kita.

Belum tentu ada pelangi setelah hujan, namun tanpa hujan bagaimana makhluk hidup dapat bertahan?

Sekian rangkuman dari saya, lumayan kalau lupa bisa lihat-lihat blog. Wallahu a’lam bi shawab.

Advertisements

About dikabeast

A complex mind in plain personality
This entry was posted in Sharing and tagged . Bookmark the permalink.

3 Responses to Bersama Kesulitan Ada Kemudahan, Kemudahan

  1. niiiiceee, dika ^_^
    long time no see. how r u?

    Like

  2. dianthuram21 says:

    Melu ngaji ya ndik

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s