Reunion with Iin, di Gunung dimana Lutut Bertemu Dahi

SunSHINE

…puncak bukan tujuan utama namun kembali ke rumah dengan selamat adalah tujuan utama. Jika dianalogikan dengan kehidupan, sukses luar biasa di dunia bukan tujuan utama, selamat dan sukses di akhirat tujuan akhir yang paling utama…

Terhitung lebih dari 2 tahun, saya tidak melakukan perjalanan dengan salah satu sahabat saya, Iin. Entah, terkadang saya pergi dia tidak bisa ikut, dan sebaliknya dia pergi saya tidak bisa bergabung. Dan sering sekali ajakan Iin saya tolak dengan alasan klasik, tesis yang alhamdulillaah sekarang sudah tidak bisa digunakan sebagai alasan lagi. Berawal dari obrolan ringan rencana melewatkan akhir pekan (21-22 Maret 2015) ke Gunung Lawu, yang sudah lama sekali ingin saya sambangi. Iin tertarik, waktunya pas dan isi dompet mendukung, namun rencana itu nampaknya harus tertunda karena rombongan yang akan berangkat mengalihkan keberangkatannya ke bulan April. Jadilah kami mencari alternatif untuk melewatkan akhir pekan yang sudah sengaja dikosongkan, dan pilihan jatuh pada open trip di sebuah forum dengan destinasi Gunung Cikuray, Garut. Kami jarang sekali mendengar tentang gunung tersebut, kalau di Garut pastilah banyak orang lebih mengenal Gunung Papandayan tetapi karena tidak ada lagi kegiatan yang pas dengan tanggal kami dengan biaya terjangkau, akhirnya kami tidak pikir panjang untuk bergabung. Setelah mencari tahu, Gunung Cikuray memiliki ketinggian 2.821 mdpl, tidak terlalu tinggi pikir kami mungkin semacam bukit lah, terdengar terlalu percaya diri dan sedikit meremehkan. Meskipun begitu, kami tetap menyiapkan fisik sejak dua pekan sebelum keberangkatan seperti merutinkan lari pagi.

Beberapa hari sebelum keberangkatan, saya masih mencari informasi terkait dengan destinasi yang akan kami tuju, kebetulan salah satu teman saya ada yang baru saja turun dari sana sepekan sebelumnya, katanya gunung itu lumayan ekstrim jalurnya dan harus persiapan kaki yang sangat ekstra juga perbekalan makanan yang banyak. Saat itu saya masih biasa saja, sampai ketika saya bertanya pada penganggung jawab trip, perbandingan trek Gede via Putri dan trek yang akan kami lalui. Jawabannya : “Wah kalo putri masih banyak bonus Dik, ekstriman Cikuray sih.” Setelah itu saya mulai khawatir dan agak ragu jadi berangkat atau tidak, tapi kami tetap berangkat.

Hari keberangkatan kami alami sangat di luar rencana. Kami berangkat bersama tiga orang lain dari Bandung menuju Terminal Guntur, Garut jum’at malam. Total kami lima orang. Rencana awal, paling lambat berangkat adalah jam 8 namun kenyataannya berkata lain. Iin tiba-tiba mendapat pekerjaan tambahan di kantornya hingga jam 9, hujan deras yang mengguyur Bandung pun mendukung kami untuk menunda keberangkatan. Begitu pun tiga orang yang berangkat dari UPI, yang tertahan oleh hujan deras. Dan kami semua berkumpul di Terminal Cicaheum sekitar lewat dari jam 9, sudah tidak ada bis lagi yang ke Garut. Saya mengontak teman saya, dan mendapat informasi bahwa bis ke Garut masih banyak jika kita menunggu di Cileunyi. Setelah bermusyawarah, kami putuskan untuk naik angkot ke Cileunyi kemudian menunggu bis di sana. Dalam perjalanan ke Cileunyi, sopir angkot menawarkan untuk mengantar hingga Garut dengan tarif yang sedikit lebih mahal daripada menggunakan bis, awalnya kami tetap mau menunggu bis namun setelah sopir sedikit menurunkan harga, kami menyetujuinya. Kami berangkat ke Garut dengan angkot dan ya, sepertinya memang bukan pilihan yang tepat. Jalanan yang kurang bagus serta kondisi dalam angkot yang memang tidak senyaman bis ataupun elf membuat kami (terutama saya dan Iin) sakit badan dan pusing luar biasa. Dalam perjalanan, salah satu dari kami yang ternyata sudah pernah mendaki Gunung Cikuray sedikit membagi pengalamannya, yang paling saya ingat adalah penuturannya tentang kondisi jalur pendakian yang terkenal dengan sebutan trek lutut bertemu dahi, saat itu saya dan Iin belum terlalu menghiraukannya.

Setelah terombang-ambing di dalam angkot, terbentur sana-sini alhamdulillaah kami sampai dengan selamat di terminal Garut lepas tengah malam. Sambil menanti rombongan dari Jakarta, kami memutuskan untuk tidur sejenak di teras masjid sebrang terminal. Oh ya, sekedar info tiga orang lain yang berangkat bersama kami, terhitung masih bocah karena usia mereka mungkin belum genap 20 tahun (sok tua). Sebelum tidur saya dan Iin menyempatkan makan terlebih dahulu, lapar harap maklum. Tidur ayam kami yang tidak nyenyak berakhir menjelang subuh, karena setelah sholat subuh rombongan dari Jakarta datang dan meminta kami untuk segera packing karena akan berangkat. Kami berangkat ke Bayongbong dengan elf yang sudah disiapkan oleh penyelenggara dan sesampai di sana kami berganti mobil bak terbuka untuk menuju titik awal pendakian. Saya dan Iin sangat excited dan bahagia, akhirnya kami pergi bersama juga, kami belum tahu apa yang akan dihadapi nanti yang ternyata memupuskan rasa gembira kami.

Pendakian diawali dengan doa bersama dan pembagian penanggung jawab, lima orang pertama berangkat terlebih dahulu untuk membangun tenda di puncak, kemudian satu orang pemimpin rombongan di depan dan yang membawa logistik di paling belakang. Kami mendaki melalui jalur Pamalayan, di awal berangkat sempat hampir nyasar melalui jalur Cinta Negara. Jalur Pamalayan lebih singkat daripada Cinta Negara dan katanya treknya pun lebih bersahabat. Melalui jalur ini, kami tidak bertemu dengan pos-pos pemantau, karena pos pemantau ada di jalur Cinta Negara. Sebenarnya ada satu jalur lagi yang treknya paling bersahabat yaitu lewat Pos Pemancar, namun jalur ini sedang ditutup. Awal langkah kami masih sangat bahagia, lelah pun tidak terasa karena kami berjalan santai dan sering berhenti, maklum boleh dibilang saya dan Iin ini seperti keong yang jalannya ngesot pula. Ladang demi ladang kami lewati, suasana asri hijau dan segar membuat kami terbuai dan senang tiada tara, vitamin mata ada dimana-mana. Sampai langkah kami masuk ke hutan, di situlah mulai rintangan-rintangan ekstrim harus kami hadapi. Kalau sebelumnya kami tidak terlalu menghiraukan cerita tentang trek Cikuray terkenal dengan sebutan lutut bertemu dahi, saat itu kami mulai merasakannya, kami membuktikannya.

IMG_20150321_093039

So refreshing!

Lutut bertemu dahi, tepatnya bertemu dada sih

Lutut bertemu dahi, tepatnya bertemu dada sih

Rombongan kami terpisah-pisah, ada yang sampai di puncak sebelum petang, ada yang bahkan bermalam di pos bawah. Kami memilih berdiam di pos 6, persimpangan antara jalur Pamalayan dan Cinta Nagara. Awalnya, kami berniat untuk bermalam di puncak, karena salah satu dari kami bertugas membawa satu tenda untuk digunakan di sana namun keadaan memaksa kami berhenti sebelum sampai puncak dan berencana meneruskan perjalanan setelah beristirahat, dan mengganti pakaian kami yang basah. Kami sudah menggunakan jas hujan namun karena hujannya sangat deras baju kami tetap saja basah. Namun, setelah beristirahat sejenak bukannya semangat meningkat untuk melanjutkan ke puncak, saya justru memutuskan untuk tetap tinggal untuk bermalam. Tenda kecil dibuka di tempat yang sangat terbatas, karena tempatnya yang memang tidak besar dan sudah ada tenda-tenda rombongan lain yang dibuka sebelum kami datang. Tenda yang kami gunakan berkapasitas 2-3 orang, sedangkan kami berlima, dipaksakan masuk alhasil semalaman saya dan Iin tidak tidur karena posisi kami duduk terlipat bersebelahan. Saya dan Iin menghabiskan malam dengan mengobrol ria, berceloteh tentang kehidupan yang ternyata kami sudah bersahabat 7 tahun juga diselingi ratapan kesedihan dan kelelahan akan pengalaman yang baru saja kami alami. Satu tenda diisi 5 orang, semalaman tidak tidur, sampai akhirnya saya harus tidur di luar tenda beralaskan matras dan bermodal sleeping bag karena punggung sudah pegal duduk terlipat. Tidak makan malam karena yang membawa logistik masih berdiam di pos bawah.

keganasan1

Korban keganasan jalur pamalayan Cikuray atau memang jas hujannya saja yang murahan

Tenda kecil kami di sela-sela pepohonan

Tenda kecil kami di sela-sela pepohonan

Menjelang fajar, orang-orang yang bermalam di pos 6 mulai mempersiapkan diri untuk summit, ada rombongan yang terkaget melihat saya tidur di luar dan mempersilahkan saya untuk masuk ke dalam tendanya yang kosong karena semuanya akan naik ke puncak. Dengan senang hati saya menyambut tawaran tersebut, selepas shalat subuh saya maksimalkan tenda tersebut untuk tidur nyenyak dan memutuskan untuk tidak ke puncak. Melihat jalan yang akan dilewati saja sudah lelah. Saya tidak sendirian, seperti biasa Iin pun bersama saya di tenda pinjaman tersebut. Kami berdua tidur nyenyak sampai orang-orang yang di puncak turun. Walaupun tidak sampai ke puncak, Iin tetap menitipkan telepon pintarnya ke salah seorang dari kami yang berangkat ke puncak, hehe.

IMG_20150322_072212

Kondisi di puncak yang saat itu (katanya) seperti pasar

Matahari terbit

Matahari terbit dari puncak

Tenda Penolong

Tenda penolong beserta personelnya yang baik hati kasih tumpangan dan sarapan

Masalah belum berhenti, singkat cerita kami turun sekitar pukul 10.30 dan sempat tertahan karena salah jalur mengikuti jalur air sehingga ketika hujan deras datang kami tidak bisa melewatinya. Sore kami sudah mencapai basecamp. Namun untuk perjalanan menuju Terminal Guntur kami baru berangkat sekitar jam 22.00 karena bermasalah dengan ojek setempat yang merasa telah dipesan oleh rombongan kami.

Iin sempat terjatuh di sini ketika turun

Iin sempat terjatuh di sini ketika turun

Pada perjalanan kali ini, saya dan Iin belajar sebuah filosofi baru, puncak bukan tujuan utama namun kembali ke rumah dengan selamat adalah tujuan utama. Jika dianalogikan dengan kehidupan, sukses luar biasa di dunia bukan tujuan utama, selamat dan sukses di akhirat tujuan akhir yang paling utama (sok bijak). Serius, ini bukan pembelaan karena kami tidak mencapai puncak, hahaha. Seharusnya tetap berusaha untuk mencapai puncak sih, namun karena sudah terlanjur trauma yang mendalam, jadi kami sama sekali tidak menyesal tidak sampai puncak. Ini bukan masalah jalurnya, namun dari pengalaman pahit pada perjalanan ini yang kemudian diakumulasi, kesimpulannya, kami tidak kapok mendaki gunung, tetapi sepertinya untuk saat ini kami kapok jika harus kembali ke Cikuray. Pahit tapi seru, selamat berjuang Iin tesisnya! Jangan nolak ya kalo diajak main lagi.

Advertisements

About dikabeast

A complex mind in plain personality
This entry was posted in Sharing and tagged , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Reunion with Iin, di Gunung dimana Lutut Bertemu Dahi

  1. trek cikuray emang mantep si, haha

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s