Will See You Again Soon, Simbah [2-end]

Ini lanjutan kisah tentang Simbah, latepost sekali tak apalah. Untuk bertemu Simbah kembali, saya akhirnya datang pada waktu yang ditentukan untuk hadir pada sidang tilang tepatnya 3 Oktober 2014. Saya sangat bersemangat pagi itu, dengan percaya diri jam 8 pagi lewat 15 menit saya sudah sampai di Pengadilan Negeri Bandung, Jalan Riau, dari kosan cukup sekali naik angkot. Rasa semangat saya mulai menurun ketika masuk ke ruangan khusus untuk sidang tilang, yang benar saja hari masih pagi tapi antrian sidang sudah berjubel, lemas rasanya, kebetulan hari itu saya sedang shaum bayar sisa hutang Ramadhan.

IMG_20141003_082156

Pagi hari sudah ramai

Nomor antrian saya

Nomor antrian saya

Saat proses sidang dimulai

Antrian saat proses sidang dimulai

Hari itu menjadi hari yang panjang dan melelahkan untuk saya, itulah kenapa sedikit malas mau menamatkan kisah dramatis dengan Simbah. Terlanjur kesal sampai ubun-ubun, tapi itu sih karena saya aja yang memang tidak sabaran, haha. Datang pagi, namun dapat giliran sidang menjelang dhuhur, kebetulan itu hari Jum’at. Saya dapat giliran sidang sekitar jam 10.30, sambil menunggu, saya berhasil merangsek masuk ke ruang sidang yang ramai dan sesekali ada sorak dari penonton karena proses sidang yang bikin geli. Hakim pada hari itu, menurut saya baik sekali tidak hanya memberi hukuman tapi memberi nasehat juga, yang kadang-kadang memicu riuh kami yang berada di dalam ruangan. Bapaknya orang Batak logatnya khas sekali, tegas, namun sengaja membuat sidangnya jadi menarik. Tidak sedikit proses sidang yang memancing gelak tawa.

Ini salah satu yang menurut saya paling lucu,

hakim : “Anda tahu kesalahan anda apa?”

terdakwa : “SIM kadaluarsa Pak.”

hakim : “Sudah berapa lama?”

terdakwa : “2 Tahun Pak.” (kalo saya tidak salah ingat)

hakim : “2 tahun? Itu namanya bukan kadaluarsa! Harus bikin lagi. Saya tanya, kenapa tidak diperpanjang?”

terdakwa : “Motor saya dijual Pak, sekarang tidak punya motor lagi.”

hakim : “Lalu, kemarin anda pakai motor siapaaaa?”

dan seterusnya.

Entah terdakwanya polos atau apa ya.

IMG_20141003_094711

Di ruang persidangan

Saya terkena sanksi denda sebesar Rp 40.000,00 ditambah uang perkara Rp 1.000,00. Usai sidang, saya diminta untuk kembali ke sana setelah dhuhur sekitar jam 1 siang. Saya memutuskan untuk pulang dahulu istirahat sejenak, kemudian kembali lagi untuk mengambil berita acara sidang yang digunakan untuk mengambil Simbah. Ketika berita acara sudah di tangan, saya pun bingung, harus kemana saya? Simbah ada dimana?

Saya bertanya-tanya pada petugas-petugas di pengadilan, dan diberi petunjuk untuk ke Polrestabes Bandung di Jalan Merdeka. Kesabaran saya sudah menipis saat itu, mungkin karena lapar dan capek, namun saya bahagia akhirnya selangkah lagi, sekali naik angkot lagi bertemu Simbah!

Sesampai di sana, saya menemui penanggung jawab urusan tilang lalu lintas, saya lupa namanya, dan diminta untuk mengcopy berkas berita acara sidang, ktp dan juga sim (kalo saya tidak salah ingat). Di tempat fotokopi, terjadi percakapan dengan mamang-mamang dan juga ibu-ibu penjaganya, yang secara tidak langsung seperti memaksakan untuk membeli materai, katanya perlu. Tapi saya menolak, karena hanya diminta untuk mengcopy saja oleh penanggung jawab tadi dan saya dilayani dengan muka tidak mengenakkan. Saya memberikan salinan dokumen yang diminta dan akhirnya, kunci Simbah saya dapatkan tapi, Simbah tidak ada di sana! Saya harus ke tempat lain untuk mengabilnya, di Pos Polisi Puma dan saya tidak tahu letaknya dimana. Saya bingung mencari angkot untuk ke sana, sempat diberi petunjuk yang salah oleh Bapak penganggung jawab tadi, akhirnya harus berjalan kaki yang lumayan jauh di siang yang terik itu sampai kemudian menaiki angkot berdasarkan informasi dari hasil pencarian di internet yang belum bisa saya pastikan karena saya sendiri tidak paham dimana letak persis tempat Simbah. Dari situ saya sudah tidak bisa menahan kekesalan saya karena ketidakjelasan petunjuk. Berganti angkot sampai berapa kali, karena sopir angkot salah menafsirkan tujuan saya, setelah sampai tujuan saya masih harus mencari lagi siapa yang mengurus Simbah, setelah bertemu yang bersangkutan masih lagi sempat dicuekin karena sibuk razia kendaraan. Tidak mudah mengusahakanmu, Mbah!

Menjelang sore saya bertemu kembali dengan Simbah yang keadaannya memprihatinkan, berdebu tak tersentuh dan ban nya pun kempes. Pada perjalanan pulang, saya sempatkan mengisi angin ban Simbah, memandikan ke tempat pencucian motor dan mengganti plat nomor yang sudah kadaluarsa. Akhirnya. Sekarang Simbah masih melanjutkan tugasnya kembali menemani saya, dan sudah berbulan-bulan belum diservis. Sabar, Mbah.

Advertisements

About dikabeast

A complex mind in plain personality
This entry was posted in Daily, Sharing. Bookmark the permalink.

2 Responses to Will See You Again Soon, Simbah [2-end]

  1. kirain simbah beneran, hahaha

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s