Will See You Again Soon, Simbah [1]

Tahun 2003, awal kebersamaan saya dengannya. Sedari itu, dia selalu menemani hampir di setiap aktivitas di luar rumah. Mulai dari ke sekolah, les hingga hanya sekedar mejeng dia selalu ada untuk saya. Mulai dari nyerempet becak saat SMA tingkat 1, kejadian selip kemudian jatuh saat SMA tingkat 2 ( di TKP yang sama dengan kejadian becak) bahkan tragedi menyenggol gerobak sampah yang sedang berhenti saat SMA tingkat 3 pun saya selalu bersamanya, dia rusak berat kala itu, alhamdulillaah saya baik-baik saja hanya lecet sedikit dan gerobak sampahnya juga baik-baik saja bahkan tidak jatuh dan tidak lecet sedikitpun. Kebersamaan kami tidak hanya sampai di situ, sempat terpisahkan oleh jarak dan waktu selama hampir 1 tahun, saat awal saya memulai kuliah di Bandung, karena belum ada izin dari orangtua untuk mengemudi di kota besar dan ramai lalu lintasnya. Namun, akhirnya di pertengahan semester 2 saya berhasil membuatnya kembali bersama saya setelah meyakinkan orangtua bahwa saya akan berhati-hati saat jalan bersamanya, ditambah ketidaktegaan orangtua saya mengetahui anak mereka selalu meminta belas kasihan agar dipinjami kendaraan orang lain.

R 3319 SH, warna hitam silver, tidak pernah saya ubah dari awal kami bertemu, hanya kaca spion, karet footstep dan beberapa aksesoris lain yang perlu diganti karena pecah, hilang ataupun sudah tidak layak pakai. Bahkan kondisi terakhir, knalpotnya agak bengkok dan tidak dapat dikembalikan ke posisi semula, penyangga (standar) tengah sudah sangat keras sehingga minyak pelumas pun tidak mempan untuk membuatnya berfungsi seperti sediakala. Ya, 11 tahun kebersamaan kami, setengahnya lebih kami habiskan di kota rantau. Terlalu banyak kenangan bersamanya, terlalu banyak kemudahan yang saya dapatkan saat ada dia, mungkin bukan hanya saya tetapi teman-teman saya yang lain juga. Walaupun orang bilang dia butut, nggak kuat ngegas dan lainnya, pada kenyataannya dia selalu memudahkan urusan saya, di samping saya tidak ada budget juga untuk mencari gantinya, hehe. Saking tuanya, setiap saya berbincang dengan kawan terkait dengan sepeda motor dan membandingkan tahun rakitan motor masing-masing, milik sayalah yang paling tua. Sebutan “Kakek Vega” hingga “Simbah” pun sempat saya sematkan padanya. Biarpun tua, soal prestasi jangan ditanya, saya sudah pernah membawanya hingga Ciwangun, Ciater (Subang), Tangkuban Prahu, Maribaya dan tempat-tempat yang memerlukan tarikan kuat lainnya. Hebat kan? Walaupun saat perjalanan bau asap knalpot yang kepanasan sudah kemana-mana, setidaknya dia tidak pernah mogok ataupun putus asa ketika saya ajak naik. Akan tetapi, apa yang sudah saya lakukan untuknya? Ketika saya masih belum merantau, tidak pernah sekalipun saya mengantarkannya untuk perawatan, biasanya Bapak yang antar. Mencucinya dengan tangan saya sendiri? Mungkin hanya sekali atau dua kali dalam 11 tahun itu.

Setelah ada di Bandung, saya mulai belajar untuk mengatur kapan saya harus ke bengkel untuk perawatannya, menungguinya saat perawatan, membawanya ke tempat pencucian, mulai mencari tahu tentang komponen-komponen yang terkait seperti oli, rantai, shockbecker, knalpot, tromol dan lainnya. Dan saya juga mulai melatih feeling untuk mendeteksi di bagian mana dia terasa tidak beres, misalnya kampas rem mulai aus atau suara mesin sudah tidak sehat sehingga saya semakin dekat dengannya baik fisik maupun hati (lebay). Saking dekatnya kami secara emosi, saya sempat berujar tidak akan menjualnya pada siapapun walaupun dihargai 1 milyar rupiah (yakali, siapa juga yang mau nawar segitu) Meski sudah sedekat itu, saya masih tergolong tidak berperikendaraanan terhadapnya. Awal keberadaannya di Bandung saya begitu rajin merawatnya namun lama kelamaan, kelalaian mulai melanda. Jika ada yang menegur saya, “ Diik, itu motor di luar ntar kehujanan.” saya akan menjawab “ Ya udah sih biarin sekalian mandi! ”. Pernah saya membiarkannya semalaman di halaman depan kosan yang tanpa gembok, alhamdulillaah tidak sampai ada yang mengambil. Karena di daerah kuliah saya sebelumnya, rawan sekali pencurian kendaraan. Tanpa rasa bersalah saya bergumam, siapa sih yang mau ambil motor begitu. Bahkan, setelah kebersamaan selama 11 tahun, foto close up eksklusif nya pun saya tidak punya. 284827_3442796511180_1512340614_n Ditambah lagi biaya perawatannya semakin mahal karena umurnya yang semakin tua, sehingga seringkali banyak onderdil atau sparepart yang harus diganti. Saya sudah mulai sebal terutama di beberapa tahun terakhir ini. Saya mulai tidak teratur merawatnya dan menjaganya pun asal-asalan. Bahkan, saking frustasinya, sempat terpikir untuk menjualnya padahal sebelumnya? Saya tidak mau dijual walaupun ditawar 1 milyar rupiah *pret*, begitulah azam manusia terkadang mudah sekali berpindah haluan. Tapi kalo benar dijual, kata Bapak saya, seperti pepatah habis manis sepah dibuang. Hmm, mungkin itu terjadi juga pada manusia ya? Jika diibaratkan manusia, Simbah itu sudah tergolong sepuh. Manusia ketika masa produktif banyak diperah diberdayakan, namun ketika sudah sepuh pasti agak terpinggirkan, jangankan urusan pekerjaan, hal-hal kecil saja seperti diacuhkan ketika ngobrol, dibentak karena lelet atau tidak paham-paham dan sebagainya sering terjadi. Mudah-mudahan saya selalu bisa menjadi manusia yang menghargai orang sepuh.

***

Benar kata orang, sesuatu akan terasa sangat berharga ketika kita jauh atau kehilangan itu. Tepat hari kemarin, saya harus mengikhlaskan Simbah berada jauh dari saya, harus merelakan tidak bisa melihatnya selama hampir 2 pekan. Berawal dari KTP alias STNK nya Simbah yang sudah hampir expired saya kirimkan ke rumah untuk dilakukan perpanjangan beberapa pekan yang lalu, sekaligus nametag Simbah yang sudah lama expired juga perlu diganti. Alhasil, di setiap kegiatan yang melibatkan Simbah, saya tidak membawa identitasnya. Setelah sebelum-sebelumnya saya beruntung selalu lolos dari razia kendaraan bermotor, kemarin siang menjelang sore, entah angin dari mana tiba-tiba saya diberhentikan oleh sekumpulan polisi yang sedang bertugas di ruas Jalan Supratman, Bandung. Memang akhir-akhir ini di Bandung sering sekali digelar razia kendaraan bermotor terutama roda dua. Lalu, apa yang terjadi? Karena saya tidak dapat memperlihatkan identitas Simbah, meskipun sudah mencoba berkilah ini itu terkait perpanjangan STNK, Simbah tetap harus disita sementara hingga sidang putusan 3 Oktober 2014 mendatang, dan saya resmi berstatus TERDAKWA pelanggar pasal 288 (1) UU No.22 tentang LLAJ. Ternyata fantastis juga maksimal dendanya [lihat di sini].

IMG_20140921_193635

Saya Terdakwa.

Saya harus banyak bersyukur karena hanya hilang sementara, tidak seperti barang saya yang dahulu pernah beberapa kali hilang permanen (sebut saja telepon selular). Ya, pengalaman ini kembali mengingatkan saya bahwa semua yang kita miliki sebenarnya hanyalah titipan harus siap diambil kapan saja, apapun itu, barang, ilmu, uang, keluarga bahkan anggota tubuh kita sekalipun. Mungkin bagi Simbah, beberapa waktu jauh dari saya menjadi kesempatan untuk istirahat, tidak perlu panas-panasan menemani saya, tidak perlu bekerja terlalu keras untuk melayani saya, mungkin kalau punya perasaan Simbah sekarang ini sedang bahagia karena bebas dari saya yang hanya memerahnya tanpa memberikan haknya, hiks (lebay lagi) . Dan benar saja, belum ada sehari saya terpisah dengannya, sudah rindu rasanya, ingin tahu kabarnya, diparkir dimana, dipakai sembarangan atau tidak. Karena saat ini saya sedang sangat membutuhkannya saja jadi berlebihan, kalau saya sedang tidak terlalu butuh mungkin tidak akan ada drama begini, hehe (ups maaf ya Mbah). Setelah bertemu kembali, saya berniat membawanya ke bengkel untuk perawatan dan akan memanjakannya di tempat cucian motor, semoga terealisasi. Selamat berlibur Mbah, baik-baik di sana ya, I’ll see you again soon! [bersambung] 255306_3442793231098_173058283_n

Advertisements

About dikabeast

A complex mind in plain personality
This entry was posted in Sharing and tagged , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Will See You Again Soon, Simbah [1]

  1. azzahravoice says:

    Ya Allah kirain simbah siapa, hihi
    Hidup rider woman! Fii amanillah dika di jalan, aamiin

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s