Memilih, Kenapa Tidak?

19pemilu2014-logo

Ini 100% pendapat pribadi saya sebagai warga negara Indonesia yang memutuskan untuk turut serta dalam pesta demokrasi yang sebentar lagi akan digelar. Walaupun lagi pusing mikirin tesis (mikirin doang) saya tetap ingin berkontribusi juga menentukan masa depan bangsa, apesnya ngerjain tesis itu pas banget di tahun 2014 yang notabene tahun politik, jadi terkadang isu-isu terkait masalah itu jauh lebih menarik daripada tesis saya sendiri (oyyy mau sidang gak oyyy) #salah fokus.

Kenapa Memilih ?

Kalau ditanya kenapa memilih? Secara sederhana akan saya jawab “karena saya tidak mau dibilang putus harapan” atau mungkin saya akan balik bertanya “kenapa nggak?” . Mohon maaf bukan berarti menyimpulkan orang yang golput itu putus asa ya, tapi setidaknya itu yang ada dalam pikiran saya, sekali lagi maaf jika memang keputusan golput itu memiliki alasan lain yang jauh lebih menginspirasi dan keren (mungkin bisa dishare). Oke, supaya jawabannya tidak terlalu singkat saya akan coba jabarkan alasan dibalik keputusan saya menjadi pemilih (jadi kalo ada yang tanya tinggal saya kasih link ini aja).

1. Indonesia Masih Punya Banyak Stock Orang Baik

Menurut saya, masih banyak orang-orang baik yang bisa dan mau mengubah bangsa ini. Masih banyak orang yang cinta negeri ini.

“ Negeri ini punya masalah, karena orang-orang baik diam dan mendiamkan. Percayalah masih banyak orang baik yang bisa dititipi mengelola republik ini.” – Anies Baswedan

2. Sistem Demokrasi, One Man One Vote

Yang sudah semuanya tahu, dalam sistem demokrasi satu warga negara berhak memberikan satu suara. Kalangan terdidik dengan kalangan yang masih kurang berpendidikan memiliki hak suara yang sama, juga suara yang dibeli dengan suara hasil penelitian bobotnya sama. Satu orang dihitung satu suara. Bayangkan, jika orang-orang yang sama sekali tidak memikirkan masa depan bangsa, terlebih yang justru ingin merusak negara, ikut berpartisipasi. Pemilih biasanya memilih berdasarkan apa yang diinginkannya, orang yang tidak peduli dengan masa depan negara memilih untuk kepentingan pribadinya saja, orang ingin merusak negara tentunya memilih yang bisa memuluskan tujuannya. Sedangkan justru orang yang menginginkan yang terbaik untuk negara tidak mau berpartisipasi, bisa dibayangkan bagaimana nanti? Aaaaaaa tidak, saya tidak mau membayangkan itu, saya percaya insya Allah di Indonesia tidak ada orang yang memiliki tujuan seperti itu, masih banyak rakyat yang ingin melihat Indonesia berjaya. Jika pun memang ada, maka saya memilih untuk tidak golput mudah-mudahan menjadi salah satu usaha untuk mencegah hal-hal buruk terjadi. Memang merubah negara tidak hanya melalui jalur politik, bisa juga melalui kegiatan sosial, kegiatan ilmiah, riset teknologi dan lain sebagainya, tapi tidak bisa dipungkiri power itu ujung dari semuanya, efeknya akan jauh lebih dahsyat! Jika melalui lembaga sosial bisa menggratiskan sekolah 300 anak yatim misalnya, melalui kekuasaan sangat mungkin menggratiskan sekolah berjuta-juta masyarakat yang membutuhkan.  Belum lupa kan kasus Pak Habibie? [5] Beliau beserta tim sedang bersemangatnya mengembangkan pesawat produksi anak bangsa N250 dan N2130, bahkan tahun 1995, N250 sudah sempat terbang perdana, namun Pak Suharto (presiden RI saat itu) dengan desakan IMF menghentikan pembiayaan begitu saja karena krisis. See? Kekuasaan itu memang luar biasa!

” With great power, comes great responsibility” – Uncle Ben

(Nasehat bagus dari om nya Spiderman, emang sih udah sering disebutin tapi biar semakin masuk ke alam bawah sadar perlu diulang-ulang *OOT dikit* )

3. Golput : No Effect!

Berdasarkan informasi yang saya dapatkan, golput hingga saat ini tidak akan memberikan efek apa pun terhadap hasil pemilu. Walaupun ada juga pengamat yang berpendapat bahwa jika golput lebih dari 50% maka hasil pemilu tersebut tidak sah [1]. Namun melihat dari kenyataan yang terjadi, besarnya angka golput tidak memberikan pengaruh apa-apa, seperti yang terjadi pada pemilu Amerika Serikat 2012 silam [2] [3] [4] , mudah-mudahan saja beritanya tidak hoax ya, dengan senang hati saya mempersilahkan jika ada yang mau mengoreksi 🙂

Kalaupun nantinya memang benar bahwa jika angka golput melebihi 50% kemudian hasil pemilu tidak sah, bagaimana? Justru itu, opsinya bisa jadi dilakukan pemilu ulang atau jangan-jangan kekuasaan diambil alih oleh pihak lain, misalnya militer atau bahkan pihak asing, tidaaaaaaak! (ini lebay sih). Jika dilakukan pemilu ulang, artinya keluar uang lagi kan? Lalu negara makin boros, terus nanti yang golput lebih banyak lagi, terus diulang lagi, terus, terus ya terus aja (looping forever).

While golput > 50% do {

pemilu

}

Intinya baik pemilu sah atau tidak sah, golput tidak memiliki efek yang berarti. Kecuali misalnya yang golput menang, berhak menentukan siapa pemimpin selanjutnya melalui cara hasil musyawarah perwakilan golput (eh ada nggak sih peraturan semacam itu?), bisa diimajinasikan nanti negara chaos nya kayak apa kalo emang caranya begini.

4. Golput : Nggak Berhak Ngritik!

A : “Pemerintah gak becus ngurus negara, bla..bla..bla”

B : “Pemilu kemarin lu milih gak?”

A : “Ngapain milih, toh ujung-ujungnya begini.”

B : “Nah, lu gak milih aja protes, mau protes ke siapa lu gak punya wakil! Lagian ngapain juga protes, kan lu udah jago ngeramal tuh, tau hasilnya bakal gimana dari dulu. Milih gak ngefek, apalagi cuma komen doang makin gak ngefek.”

(Percakapan hanya ilustrasi)

Ya intinya sih jika saya golput, maka saya semacam tak punya hak untuk ngritik. Lagian malu juga kan, pemilu aja gak milih masa mau komplain kebijakan, mau komplain ke siapa? Hehehe. [4]

5. Menghindari Penyesalan

Saya gak mau nyesel karena nggak milih, gak elit banget! Lalu jika yang dipilih tidak sesuai ekspektasi? Itu lebih baik daripada rasa penyesalan karena tidak ikut berpartisipasi. Tapi semoga saja pilihan saya bisa sesuai denga ekspektasi, jika pun tidak, minimal pilihan saya tersebut kerjanya sudah maksimal meskipun target tidak sepenuhnya tercapai.

Pertimbangan Secara Agama Islam

Nah! Kalau soal yang satu ini seringkali menjadi perdebatan bahkan bikin kita sendiri (umat Islam) gontok-gontokan. Jujur, saya ini tidak memiliki kapabilitas tentang hukum syar’i pemilu dan demokrasi, namun saya mencoba mencari tahu fatwa-fatwa ulama terkait hal ini. Memang ada perbedaan pendapat dari referensi yang saya dapatkan. Berikut perbedaan pendapat yang saya coba rangkum :

1. Yang membolehkan :

http://www.ustadzfarid.com/2014/02/fatwa-fatwa-para-ulama-tentang.html

http://almanhaj.or.id/content/2200/slash/0/dr-yusuf-al-qaradhawi-dan-demokrasi/

Intisari dari pembolehan tersebut adalah karena melihat sisi kemudharatan dari tidak mengikuti demokrasi yang lebih besar. Dapat berimbas pada keberlangsungan muslim, karena jika yang banyak lolos pemilu adalah yang menentang muslim maka itu sangat membahayakan. Pada dasarnya, ulama-ulama yang membolehkan sepakat bahwa demokrasi itu memang bukan sistem Islam, namun memperbolehkan untuk berpartisipasi dan itu pun dengan syarat-syarat khusus.

2. Yang melarang/ menganggap demokrasi itu sistem kufur :

http://hizbut-tahrir.or.id/2009/02/06/telaah-kitab-demokrasi-sistem-kufur-karya-syekh-abdul-qadim-zallum/

http://rumahshintazahaf.wordpress.com/2012/05/06/demokrasi-sistem-kufur-haram-mengambilnya-menerapkannya-dan-menyebarluaskannya-hal-34-52/

http://www.eramuslim.com/berita/dunia-islam/pemimpin-jihad-salafy-jordan-demokrasi-haram-karena-bertentangan-dengan-hukum-allah.htm#.Uz0Fq6Iia8g

Intisari dari pengharaman demokrasi adalah terletak pada ide demokrasi, yang kedaulatan rakyat merupakan pemegang kendali tertinggi, hal ini dianggap sangat menyalahi aturan Islam.

3. Kalau yang ini pendapat dari Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA

http://www.rumahfiqih.com/m/x.php?id=1352103521

Sebenarnya penjabarannya panjang, mungkin bisa dibaca sendiri tautan-tautan yang sudah saya cantumkan, nanti akan dapat menemukan kesimpulan dari masing-masing pendapat.

Dalam masalah ikhtilaf (perbedaan pendapat) berdasarkan yang saya ketahui pilihan dikembalikan lagi pada kita, sama halnya dengan perbedaan pendapat sholat tarawih harus 11 atau 23 atau perbedaan pendapat tentang boleh atau tidaknya wanita haid membaca Al-Qur’an, asalkan bukan perbedaan pendapat yang inti, misalnya kalimat syahadat ataupun jumlah raka’at pada sholat wajib, kalau yang ini sudah paten, jadi jika ada yang berbeda dari paten ya mungkin ada yang salah. Setelah saya tahu dasar-dasar hukumnya dengan perbedaan pendapat tersebut, saya mulai berpikir serta mempertimbangkan alternatif pilihan aksi, mungkin bisa juga disebut ijtihad pribadi. Selain dari fatwa-fatwa tersebut saya juga mencoba memahami sejarah perkembangan Islam di masa Rasulullah SAW dengan membaca buku “Sirah Nabawiyah” (penulis : Dr. Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthy) sembari berkonsultasi pula kepada orang-orang yang ilmu agamanya lebih banyak dari saya, dan yang saya tangkap pada dasarnya tidak ada platform resmi atau template baku tentang bagaimana cara memilih pemimpin di zaman tersebut juga di zaman kekhalifahan 4 sahabat. Ada yang dipilih secara langsung tunjuk, ada yang melalui perwakilan untuk bermusyawarah dan lainnya. Namun memang, cara demokrasi atau menghitung suara terbanyak tidak ada. Mungkin boleh dikoreksi jika pemahaman saya perlu diluruskan.

Hasil dari ijtihad tersebut melalui pertimbangan fatwa ulama, cerita sejarah juga pemikiran logis, saya memutuskan untuk tidak golput. Karena, menurut saya yang efeknya lebih akan terasa oleh umat Islam sendiri adalah ikut memilih, seperti yang disebutkan sebelumnya, kekuasaan itu dahsyat! Ambil contoh Turki, negara sekuler yang sebelumnya ada peraturan tidak boleh menampakkan atribut agama termasuk menjalankan kewajiban menutup aurat (berjilbab bagi muslimah) pun dilarang, karena dianggap menampakkan atribut agama dan mencampurkan masalah agama dengan masalah kemasyarakatan, sekarang? Di bawah kekuasaan yang baru, hak penggunaan atribut agama pun diakui, jadi sekarang muslimah di Turki bisa sangat bebas menjalankan perintah Allah untuk menutup aurat.

Logis! Tetapi tidak berarti pilihan lainnya salah, tidak. Walaupun MUI sempat mengeluarkan fatwa haram golput [6], saya pribadi tidak berani menyatakan bahwa golput itu dosa atau apa lah namanya, ampun saya ini siapa? Mungkin anggota MUI kan lebih mendalam ilmunya jadi cukup capable untuk mengeluarkan fatwa. Saya tetap menghargai teman-teman yang memilih golput, itu merupakan hak politik dan mungkin juga hasil ijtihad mereka, tentunya dengan konsekuensi yang telah saya jabarkan sebelumnya (alasan memilih no 3 dan 4). Namun, secara logis dan realistis saya belum menemukan solusi dari permasalahan negara dengan cara golput. Karena alternatif saat ini memang harus menggunakan sarana demokrasi, mungkin suatu saat jika saja sudah ada penemuan baru cara menjayakan kembali Islam tanpa demokrasi, yang logis dan realistis, bisa saja hasil ijtihad saya berubah 😉

Harapannya sih, teman-teman yang golput juga menghargai pilihan saya untuk tidak golput serta tidak menyalahkan dan menganggap saya melenceng dari ajaran Islam.

Oh ya, ada juga yang beralasan golput karena dalam Islam itu hanya dikenal namanya musyawarah dan tidak ada yang namanya orang meminta jabatan, maka bisa juga pake cara alternatif dari Bapak saya.

“Bapak milih partainya saja, karena dalam Islam itu nggak ada yang namanya minta jabatan, nanti berbaik sangka saja sama partai yang merapatkan suara untuk siapa.” – Bapak

Bagaimana kasus pilpres, kan tidak bisa pilih partai yang ada hanya pasangan? Lho, pasangan itu kan hasil dari musyawarah partai bahkan bisa jadi hasil musyawarah lebih dari satu partai bukan?

Lalu kasus untuk memilih DPD-RI bagaimana, itu juga tidak ada partainya? Nah kalau yang ini kembali ke ijtihad masing-masing saja mau tetap memilih atau tidak memilih 🙂

Untuk yang masih tetap mau golput secara keseluruhan, semoga tetap dapat memajukan Indonesia dengan cara yang lain dan terus saling mendukung ya tentunya agar tercipta harmoni dalam negara.

Common Statements

“Nggak milih legislatif, mau milih nanti aja pas pilpres.”

Tidak sedikit saya menemukan orang-orang yang berpikir demikian, rata-rata alasannya “ah legislatif kan gak ngaruh” atau “ah anggota dewan kerjaannya cuma tidur aja” dan berbagai macam alasan lain yang sebenarnya dapat dirangkum dalam satu kata : KECEWA. Ya, terlalu banyak yang mengecewakan dari anggota dewan yang seharusnya menjadi harapan rakyat. Kecewa karena berita negatif, kecewa karena orang yang dipilih sebelumnya tidak sesuai ekspektasi, kecewa kasus korupsi anggota dewan yang semakin merajalela, kecewa karena memang pernah dipersulit oleh anggota dewan karena ybs merupakan pelaku pemerintahan (kalo yang ini ada narasumberny) dan lain sebagainya. “Pokoknya mereka sungguh ter…la..lu, kecewa gueeee kecewaaa!

Eits, kalau sedikit flashback ke masa lalu jaman saya belum lahir di dunia ini, masih seputar jilbab, di Indonesia sempat ada peraturan dilarang menggunakan jilbab di sekolah-sekolah negri. Banyak juga cerita dari orang-orang terdahulu seperti itu. Sekarang? *kibas-kibas jilbab* Dengan leluasanya kita bisa menikmati menjalankan perintah agama yang satu ini (bagi perempuan yang beragama Islam). Nah, perubahan darimana? Salah satunya ya perjuangan dari orang-orang di legislatif didukung dari perjuangan elemen lainnya juga. Dan perlu diketahui, sebaik apapun bagian eksekutifnya, akan terhambat jika bagian legislatifnya tidak mendukung karena tidak satu visi. Salah satu contohnya, dana APBN maupun APBD akan susah cair untuk program pemerintah.

“Jauh lah mau milih, harus pulang, mending gak usah milih”  (golput sistemik, biasanya dialami mahasiswa dan perantau)

Kalau emang beneran care sama negara dan mau agak berusaha dikit, memilih itu bisa dimana saja tidak harus di daerah asal, dengan melalui beberapa prosedur tentunya, dan caranya juga gampang banget, udah banyak informasi tentang itu, ya kecuali buat orang-orang kudet (kurang update) kayak saya ini mungkin ada juga yang belum tahu informasinya. Bahkan ada dari beberapa organisasi kampus yang memfasilitasi untuk menjadi perantara mengurus keperluan untuk pindah tepat memilih, seperti yang dilakukan Kamil Pascasarjana dan Gamais ITB. [7]

Strategi Menjadi Pemilih Cerdas

Betul sekali, tidak cukup hanya menjadi pemilih tapi sangat perlu menjadi pemilih yang cerdas. Bagaimana caranya? Yaelah sekarang kan jaman modern bro! Pake internet lho internet! Mengenal orangnya dan tahu track record nya secara langsung memang lebih bagus, namun jika kita tidak mampu untuk melakukannya, sarana selain langsung juga banyak sekali! Sekarang ini sudah menjamur portal-portal informasi mengenai calon anggota dewan daerah pilihan kita, seperti ini :

http://wikikandidat.com/

www.jariungu.com

http://orangbaik.org/

dan masih banyak lagi, bahkan Google juga meluncurkan portal informasi pemilu 2014 [8]. Lalu jika ingin cari tahu lebih dalam, bisa juga kita googling nama-nama calon kemudian baca berita-beritanya serta kegiatan-kegiatan yang pernah dilakukan, untuk bagian yang ini perlu berhati-hati karena seperti yang sudah menjadi rahasia umum bahwa media kita tidak ada yang netral jadi makin banyak baca makin bagus dan cari dari sumber yang berbeda-beda.

Kemudian kita perlu pertimbangkan juga partai pengusungnya, kenapa? Karena latar belakang partai itulah yang dapat mengendalikan calon-calon yang akan kita pilih. Jika track record partai nya bagus maka dapat berpengaruh juga pada perwakilannya begitu pun sebaliknya. Namun, jika memang yakin ada calon yang baik, luar biasa keren, track recordnya bagus dan kompeten, juga yakin bahwa orang tersebut tidak akan terpengaruh apapun latar belakang partainya, maka tidak masalah. Sesuai kemantapan nurani kita saja, tentu setelah kita mempelajari ya, jangan sampai terjebak dengan ketokohan atau figur yang populer.

“Pun di tiap partai akan ada orang-orang baik. Maka apapun pilihan kita; bantulah orang-orang terbaik di manapun tuk membesarkan kebaikannya.” – Ust. Salim A. Fillah

Dan yang paling penting : DOA! Ini hal yang terkadang kita lupakan. Bisa jadi kita tidak pernah mendapatkan pemimpin yang adil dan hebat karena kita tidak pernah memintanya. Apalagi bagi muslim, doa adalah senjata yang mujarab. Maka berdoalah, meminta pemimpin yang baik, meminta bimbingan untuk dapat menjadi pemilih yang cerdas dan mendoakan juga wakil dan pemimpin yang menang agar selalu istiqomah (konsisten).

“Maka itu agar pilihan kita benar dan tepat, kita meminta panduan dari Allah SWT, baru setelah itu kita amati rekam jejak calon yang akan kita pilih. Insya Allah, jika apa yang kita pilih mendapatkan ridha Allah SWT, maka Indonesia akan bertambah keberkahannya,” – Ust. Yusuf Mansyur [9]

Kalo saya sepertinya untuk pileg untuk DPR mau pilih partainya saja, ngikut cara bijak hasil pemikiran Bapak, untuk DPD-RI saya juga tetap memilih walaupun tidak ada partainya (cari tahu info calon). Sedangkan untuk pilpres, saya juga tetap memilih walaupun tidak ada partainya juga karena pasangan-pasangan yang muncul adalah hasil musyawarah juga. Lalu, partai apa yang akan saya pilih nanti? Ada d333h. Semoga saja keputusan saya memilih ini adalah keputusan yang terbaik 🙂 Selamat menikmati pesta demokrasi, Indonesia!

Wallahu a’lam bish-shawab

***

Referensi :

[1]http://nasional.kompas.com/read/2014/02/05/2227223/Pengamat.Hasil.Pemilu.Tak.Sah.kalau.Golput.Lebih.dari.50.Persen

[2] http://www.islamtimes.org/vdcfx1d0mw6dx1a.,8iw.html

[3] http://www.tempo.co/read/news/2012/08/17/116424245/90-Juta-Warga-AS-Pilih-Golput

[4] http://ekibaihaki.com/article/87371/golput-dalam-pemilu.html

[5]http://finance.detik.com/read/2013/01/17/171322/2145418/1036/bj-habibie-saya-bilang-gila-industri-strategis-penerbangan-dibubarkan

[6] http://www.pikiran-rakyat.com/node/274883

[7] http://pemilu.tempo.co/read/news/2014/03/27/269565741/Tolak-Golputi-ITB-Buka-Posko-Mahasiswa-Perantau

[8] http://pemilu.sindonews.com/read/2014/03/26/113/847803/google-luncurkan-portal-informasi-pemilu-2014

[9] https://id.celebrity.yahoo.com/news/jelang-pemilu-ustaz-yusuf-mansur-gelar-doa-bersama-220100743.html

Source Gambar

Advertisements

About dikabeast

A complex mind in plain personality
This entry was posted in Opini, Sharing and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s