Pak Djuju, Inisiator Perpustakaan Saba Desa

… Bapak ini kan  berpendidikan tidak tinggi, orang desa lagi, tetapi Bapak tidak ingin anggapan membaca itu hanya untuk orang kaya saja atau orang yang berpendidikan saja. Masyarakat desa pun bisa membaca dan juga bisa pintar, menambah wawasan melalui membaca. – Pak Djuju

Akhir tahun 2013 lalu saya sedikit disibukkan dengan aktivitas mondar-mandir Unpad (Jatinangor dan Dipati Ukur) karena menjadi salah satu finalis Anugrah Motekar 2013, yang diselenggarakan oleh Universitas Padjajaran (Unpad) yang merupakan salah satu rangkaian acara Dies Natalis Unpad. Anugrah Motekar kali pertama digelar pada tahun 2012 sebagai apresiasi Unpad terhadap kreatifitas masyarakat, info lebih lanjut ada di sini. Dalam anugrah ini ada 3 kategori yang dikompetisikan, kategori inovasi teknologi, kategori ekonomi kreatif dan kategori rekayasa sosial. Singkat cerita, setelah presentasi akhir di hadapan juri sebagai finalis 5 besar kategori inovasi teknologi, tim saya lolos menjadi 3 besar dan diwajibkan untuk hadir di acara penganugrahan, Senin (23/12). Karena pada acara tersebut finalis harus menyampaikan deskripsi singkat produk pada pengunjung, seluruh finalis yang totalnya 9 (3 dari masing-masing kategori), juga diminta menghadiri technical meeting (TM) sehari sebelumnya.

Saya bersama salah seorang anggota tim saya datang agak terlambat pada saat TM, dan itupun belum dimulai karena menunggu penanggungjawab teknis yang sedang terjebak macet di jalan. Yang jadi sorotan saya hari itu adalah, seorang bapak tua, bahkan sepertinya sudah bisa disebut kakek, hadir di sana dengan membawa beberapa tas besar dan tumpukan buku-buku. Saya dan salah seorang finalis lain dari kategori yang sama dengan saya saling bertanya “Bapak itu finalis juga ya? Kasihan banget barangnya banyak, bawa sendiri”. Setelah memperhatikan sekitar, saya menyimpulkan  bahwa memang benar si bapak adalah juga salah satu finalis, namun saya belum dapat memastikan bapak itu masuk dalam kategori apa. Saya yang diliputi rasa penasaran serta kagum memberanikan diri menghampiri bapak itu seusai TM, lalu terbangunlah obrolan singkat di antara kami. Begini kurang lebih rangkumannya (dengan sedikit penyesuaian).

Permisi Pak, Bapak bawa apa? (basa-basi)

Ini buku Neng.

Wah banyak sekali, Bapak asli dari Bandung?

Bapak dari Purwakarta Neng, tapi anak ada yang di Bandung.

Oooh, trus Bapak ini dari Purwakarta berangkatnya?

Iya tadi pagi Neng, berangkatnya dari Purwakarta, naik bis.

Ini buku-bukunya dibawa juga dari sana?

Ya ada yang Bapak bawa dari Purwakarta, ada yang dianterin anak ke sini.

Waw hebat Pak. Kalau produk Bapak sendiri, yang diikutkan acara ini apa ya?

Perpustakaan keliling Neng. Namanya Perpustakaan Saba Desa.

Oooh, perpustakaan keliling itu gratis Pak?

Iya Neng.

(seketika saya langsung dapat menebak masuk kategori manakah produk beliau, rekayasa sosial). Itu sistemnya bagaimana ya Pak?

Jadi begini Neng, Bapak membawa buku-buku ini keliling dari desa ke desa, untuk masyarakat yang mau membaca, bisa meminjam secara gratis.

Itu Bapak jalan kaki?

Iya Neng. Bapak ya giliran ke desa-desanya, misalnya hari ini ke desa satu giliran selanjutnya ke desa yang lain.

Waaaah keren sekali Bapak! Oh, iya kalau boleh tahu nama Bapak siapa?

Djuju Junaedi. Biasa dipanggil Djuju atau Abah Udju. (sambil tersenyum)

Kalau umur Bapak berapa? Hehehe

(sebenarnya saya agak lupa usia pasti Pak Djuju) Bapak mah sudah 64 tahun Neng dan sudah 25 tahun lebih keliling-keliling untuk meminjamkan buku kepada masyarakat.

Wah Pak, umur Bapak sudah berkali-kali lipat dari saya, sama seperti nenek saya (kemudian kami sedikit terkekeh). Tapi Pak, semangat Bapak itu masih seperti anak muda lho, 25 tahun konsisten seperti itu. Awal mulanya gimana sih Pak, kok bisa kepikiran membuat perpustakaan semacam ini?

Awalnya itu dari anak-anak, Neng. Dulu ketika masih sekolah, anak-anak selalu merengek minta buku bacaan, setelah itu ketika anak-anak tidak menggunakan bukunya lagi awalnya Bapak bingun juga mau diapakan bukunya, jadi Bapak ada ide seperti ini. Banyak Neng bukunya dari dulu sampai buku-buku kuliah anak-anak, majalah-majalah, banyak dapat sumbangan buku juga. Dulu bapak juga pernah menuliskan di surat pembaca di sebuah majalah, menceritakan tentang program Perpustakaan Saba Desa, dan lumayan juga Neng bapak mendapat kiriman-kiriman buku bahkan dari Medan juga pernah. Saat ini ada yang masih suka rutin itu salah satu harian dari bandung Neng.

Kalau tanggapan dari masyarakat desa sendiri bagaimana Pak?

Ya, awalnya sih banyak yang tidak tertarik Neng, ngapain sih membaca itu kan hanya untuk orang pintar saja. Buat apa orang desa itu membaca juga. Tapi, alhamdulillah sekarang sudah banyak yang tertarik untuk membaca dan menjadi langganan tetap.

Itu Bapak kelilingnya kapan saja Pak?

Ya tergantung Neng, biasanya bisa beberapa kali dalam seminggu. Dulu waktu masih kerja Bapak sepulang kerja keliling Neng, pulang sampai rumah baru malam hari, tapi alhamdulillah istri selalu mendukung.

Oh, dulu sempat kerja di mana Pak?

Dulu di perkebunan Neng. Sekarang sudah pensiun.

Hmm, jadi sebenarnya tujuan yang ingin Bapak capai apa, dengan adanya Perpustakaan Saba Desa ini?

Kalo Bapak sih Neng, berharapnya sederhana, Bapak ini kan  berpendidikan tidak tinggi, orang desa lagi, tetapi Bapak tidak ingin anggapan membaca itu hanya untuk orang kaya saja atau orang yang berpendidikan saja. Masyarakat desa pun bisa membaca dan juga bisa pintar, menambah wawasan melalui membaca.

Keren juga nih ya Pak, kalau mau dibuat cerita.

Bapak sekarang juga masih sering menulis Neng, apa saja Bapak tulis tentang perjalanan Perpustakaan Saba Desa ini. Sudah dapat banyak dan masih berjalan.

Bapak nulis tangan?

Iya Neng, dulu pernah dapat komputer dari pemerintah daerah Purwakarta, tapi Bapak tidak bisa pakainya jadi dipakai sama anak untuk keperluan kuliah.

Terus Pak, tau Motekar ini dari mana?

Bapak dihubungi, diminta untuk mendaftar, Bapak tidak tahu bagaimana yang mendaftarkan anak Bapak.

Wah, boleh tuh Pak kapan-kapan saya baca cerita-cerita Bapak, siapa tahu nanti bisa dibukukan lho Pak.

Mangga Neng, sok atuh main ke Purwakarta, ke tempat Bapak.

Iya Pak, mudah-mudahan ada kesempatan. Alamat Bapak dimana Pak Purwakartanya?

Desa Gunung Hejo, Darangdan, Purwakarta

Sesampai di rumah, saya langsung ngepoin Pak Djuju di internet dengan Perpustakaan Saba Desanya. Dan berikut beberapa informasi yang saya dapat : [1] dan [2]. Hari selanjutnya, saya masih tidak bisa berhenti mengalihkan perhatian saya dari Pak Djuju. Alhamdulillah, beliau mendapatkan juara pertama untuk kategori rekayasa sosial. Satu yang saya sayangkan, ketika beliau memberikan semacam victory speech, dengan suara yang terbata-bata namun berbobot, hadirin banyak yang tidak memperhatikan beliau bahkan tidak sedikit yang pergi keluar ruangan. Walaupun acara sudah hampir berakhir, tetapi alangkah lebih baiknya menghormati Pak Djuju dengan mendengarkannya hingga selesai.

IMG_8613

Pak Djuju dengan senyum tulusnya

IMG_8615

Foto seluruh finalis motekar beserta juri dan rektor Unpad

Saya merasa sangat beruntung diberikan kesempatan untuk bertemu langsung dengan Pak Djuju. Entahlah, sepertinya teguran Allah kembali menyapa saya melalui perantara orang luar biasa seperti beliau. Pertemuan ini sungguh membuat saya kembali terhenyak, kagum sekaligus malu. Dipermalukan, lagi dan lagi. Kembali berinteraksi dengan orang yang tanpa banyak kata-kata namun melakukan aksi nyata. Untuk kesekian kalinya pertanyaan ini menghinggapi pikiran saya, apa yang sudah saya lakukan untuk orang lain? Apakah saya sudah bermanfaat, atau jangan-jangan saya malah merugikan orang sekitar? Bahkan Pak Djuju selama 25 tahun telah mengabdikan dirinya demi visinya “masyarakat desa yang pintar dengan membaca” . Saya? *jedukin kepala ke tembok* . Untuk teman-teman yang berminat mengirimkan bukunya, bisa dikirim ke : Rahmat Djuju Junaedi, Perpustakaan Saba Desa, Desa Gunung Hejo, Kec. Darangdan, Purwakarta 41163

Advertisements

About dikabeast

A complex mind in plain personality
This entry was posted in Sharing and tagged , . Bookmark the permalink.

One Response to Pak Djuju, Inisiator Perpustakaan Saba Desa

  1. emang udah seharusnya bagi yg udah merasakan apa yg namanya kuliah untuk berkarya buat negeri ini, hehe

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s