Media Netral, Adakah?

media_control1

Masih lekat dalam ingatan tulisan yang tertempel di sekretariat Masyarakat Jurnalistik (Masjur) Institut Teknologi Telkom – sekarang Telkom Engineering School, Universitas Telkom – yang berjudul “Kode Etik Jurnalistik”. Entah sejak kapan tulisan tersebut tertempel di sebuah lemari kayu penghuni ruangan sekre, semenjak saya bergabung dengan Masjur sudah apik terpampang di situ mungkin sampai saat ini masih ada. Sudah lama sekali tidak menyambangi tempat bersejarah itu, yang dahulu keberadaannya seakan hidup segan mati tak mau, namun sekarang gaungnya sudah cukup terasa baik di kampus maupun di dunia maya.

Ah, memori masa lalu memang terkadang menyenangkan untuk sesekali diputar ulang dalam otak. Ketika saya masih polos dan lugu sebagai mahasiswa baru kemudian bergabung dengan Masjur, saya cukup kagum dengan tulisan yang berjudul “Kode Etik Jurnalistik” itu. Jurnalis itu keren menurut saya, kala itu. Mungkin bagi yang belum tahu apa isi kode etik jurnalistik bisa dilihat disini . Andai saja kode etik tersebut benar-benar dijalankan oleh semua jurnalis,  betapa damainya pikiran pembaca berita saat ini karena jauh dari hal-hal yang berbau kebohongan, kesimpangsiuran, manipulasi dan lain sebagainya.

Saya sangat antusias bertanya kepada senior tentang poin-poin di dalam kode etik jurnalistik, terutama pada poin pertama : Wartawan Indonesia bersikap independen, menghasilkan berita yang akurat, berimbang, dan tidak beritikad buruk.  Dari poin tersebut saya berkesimpulan bahwa diperlukan seorang jurnalis untuk bersikap netral, sehingga saya mencoba menanyakan sikap netral yang seperti apa yang perlu dimiliki oleh seorang jurnalis, namun saya tidak ingat benar jawaban yang saya dapatkan karena hingga sekarang pun saya masih mempertanyakan hal itu.

Melihat dan mengamati perkembangan media saat ini, jujur saya susah percaya dengan arus pemberitaan yang bergulir. Prinsip yang selalu saya kedepankan adalah “mosi tidak percaya” pada media sehingga diperlukan waktu untuk berpikir jernih untuk menyaring serta mengambil kesimpulan dari berita-berita yang beredar dan ramai dibicarakan. Apakah sang jurnalis pembuat berita benar-benar mengimplementasikan kode etik jurnalistik? Apakah berita itu benar, setengah benar, atau bohong bahkan fitnah? Saya juga sering dibingungkan dengan bercampurnya berita dengan opini.

Pada teknis di lapangan, kode etik jurnalistik nampaknya tidak mudah untuk diimplementasikan. Bahkan media-media yang ternama sekalipun, saya pikir kecil kemungkinan keseluruh kode etik jurnalistik tersebut terpenuhi dalam pemberitaan mereka. Ya, setidaknya ini menurut saya pribadi yang hanya seorang penikmat berita. Oh bukan, bukan penikmat, tetapi hanya pembaca atau pendengar, karena seringkali saya kurang menikmati berita yang muncul di era saat ini terutama pemberitaan yang mengandung unsur pengarahan opini publik. Apalagi berita-berita yang kurang penting dan dibesar-besarkan.

“ Ketika jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara. Karena bila jurnalisme bicara dengan fakta, sastra bicara dengan kebenaran. Fakta-fakta bisa diembargo, dimanipulasi, atau ditutup dengan tinta hitam, tapi kebenaran muncul dengan sendirinya, seperti kenyataan…”

Sepenggal kata-kata tersebut saya kutip dari awal paragraf tulisan “Kehidupan Sastra di Dalam Pikiran” yang ditulis oleh Seno Gumira Ajidarma dalam buku kumpulan essay nya : Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara. Saya tidak sepenuhnya membenarkan apa yang tertera pada tulisan di atas, tapi saya sangat setuju dengan pernyataan terkait fakta itu bisa dimodifikasi, dibuat, direkayasa. Iya nggak sih? Karena sekarang jaman bebas berpendapat, maka jikalau harus beropini mengenai media yang netral, saya katakan bisa jadi tidak ada media yang netral, bahkan tidak mungkin. Why? Karena sejatinya manusia sangat kecil kemungkinan untuk bersikap netral, minimal pasti selalu ada kecenderungan dalam hatinya.

Sebagai masyarakat awam, penting rasanya untuk menyaring berita-berita yang bermunculan, memilah dan membandingkan tidak hanya dari satu sumber. Walaupun tidak ada media yang netral seutuhnya, paling tidak saya percaya masih ada media yang tidak menyebarkan berita bohong ataupun fitnah terlepas dari kecenderungannya, setidaknya masih menyisakan kesadaran untuk tidak menyebarkan kebohongan ataupun manipulasi fakta dan sebagainya. Sangat dituntut kecerdasan juga kejelian konsumer berita sehingga walaupun tidak netral, konsumer dapat bersikap sedikit lebih objektif tidak memakan mentah-mentah pemberitaan yang ada.

Beberapa waktu yang lalu saya sempat hadir di sebuah acara yang dua dari pembicaranya pernah aktif di media yaitu Pak Yunirsyah Sirin (saat ini menjadi aktivis ACT-Aksi Cepat Tanggap- Care for Humanity ) dan Mas Surya Fachrizal (salah satu saksi kejadian kapal Mavi Marmara dan tertembak dadanya oleh tentara Israel : http://www.republika.co.id/berita/breaking-news/internasional/10/06/03/118223-syahid-cita-cita-tertinggi-surya-fachrizal, sekarang aktif sebagai relawan sahabat Al-Aqsha). Keduanya memberikan jawaban ini ketika ada salah satu peserta bertanya “bagaimana caranya mengetahui media mana yang harus kita baca dan yang mana yang tidak”. Berikut kutipan jawaban yang mereka yang menurut saya perlu dijadikan catatan sebagai pembaca berita.

“Berita yang bebas dari kepentingan itu tidak ada. Yang mungkin adalah mencari siapa yang memiliki kepentingan di balik berita itu. Nggak ada media yang netral! Baca lebih banyak lebih baik, sebanyak-banyaknya jangan hanya dari satu sumber. Tidak usah mencekoki diri sendiri dengan berita-berita yang kita inginkan. Nanti lama kelamaan kesimpulan akan muncul dengan sendirinya.” – Yunirsyah Sirin

“Untuk mengambil kesimpulan dari berita, perlu mencari tahu sejauh mana berita yang kita baca itu dapat diverifikasi. Berisi fakta kah? Dan kita juga harus dapat mengenali arahan berita itu apa, mengarahkan pembaca untuk sekedar tahu, atau diarahkan untuk sedih, atau bahkan mengarahkan sikap pembacanya.” – Surya Fachrizal

media-control2Ada juga yang pernah menyampaikan, untuk mengkonsumsi media perlu menaikkan kadar sikap skeptis dalam diri sendiri, jangan mudah percaya. Kurang lebih seperti prinsip “mosi tidak percaya” saya terhadap media, mungkin. Begitulah, media memang luar biasa. Media dapat mengendalikan cara pandang, pemikiran bahkan pola hidup kita. So, we need to be careful and smart, guys!

Sumber gambar :

http://brazilianstudentinus.blogspot.com/2012/11/media-controls-what-we-think.html

http://truedemocracyparty.net/2013/02/mainstream-media-now-controls-all-local-newspapers-wall-street-controls-your-local-newspaper-cbs-cia/

Advertisements

About dikabeast

A complex mind in plain personality
This entry was posted in Opini. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s