How to Be A Great Mom? [1]

“Ibu yang baik itu bukanlah ibu yang sempurna…”

603067_611107518945381_1573204712_nSiang itu, Jumat (25/10), saat kaum adam menjalankan ibadah jum’atnya, Kajian Forum Muslimah (Rumah) Kamil Pascasarjana ITB kembali diselenggarakan untuk kesekian kalinya (padahal baru tiga kali sih haha) dengan mengusung tema besar Parenting, “How to be a great mom?” begitulah kurang lebih yang tertulis pada poster publikasinya. Acara ini menghadirkan narasumber yang (setidaknya menurut saya) cukup fenomenal karena ibu yang satu ini melahirkan anak pertamanya di umur 18 tahun. Wow, seketika membuat saya mengenang, saya lagi sibuk ngapain ya saat berusia 18 tahun? Ah, jadi teringat masa-masa labil dan alay dahulu, bikin geli (berasa sekarang udah gak alay aja,haha). Nama ibu narasumbernya, Yuria Pratiwhi Cleopatra, unik ya? Macam nama ratu-ratu kerajaan timur tengah gitu. Sedikit bercerita mengenai narasumber, meskipun menikah di usia yang sangat muda bahkan memiliki anak di umur yang bisa dikatakan masih belia, Teh Patra (begitu beliau biasa dipanggil) tetap menjalani perkuliahannya di Jurusan Teknik Sipil Institut Teknologi Bandung hingga lulus pada tahun 2001. Gileee teknik sipil men! Salah satu jurusan teknik yang termasuk dalam kategori jurusan manly dalam pandangan saya. Tidak hanya itu, Teh Patra juga melanjutkan ke jenjang pendidikan master di Universitas Indonesia jurusan Ekonomi Syariah pada tahun 2006 hingga lulus tahun 2008. Memang agak sedikit tidak berkaitan ya jurusan saat S1 dan S2, tetapi setidaknya hal ini membuktikan bahwa bukan suatu masalah ketika perempuan mengenyam pendidikan yang tinggi asalkan tetap paham bagaimana tugas utamanya.

Saat ini, Teh Patra telah dikaruniai 5 orang anak, 1 di antaranya sudah dipanggil oleh Allah. Dengan 4 orang anak yang saat ini dibesarkannya (dan masih ada kemungkinan bertambah lagi), Teh Patra saat ini aktif mejadi praktisi homeschooling setelah sebelumnya juga sempat mengajar di sekolah-sekolah. Fyi, semua anaknya (yang sudah menginjak usia sekolah) sekarang homeschooling lho! Penasaran? Langsung saja kepo-in akun facebook nya Teh Patra. Pada acara saat itu, peserta jauh lebih banyak daripada sebelum-sebelumnya, mungkin karena temanya sangat menarik. Meskipun kebanyakan dari peserta belum menjadi orang tua, bahkan tidak sedikit yang masih single (termasuk saya,haha sekalian promosi), tidak menyurutkan semangat kami untuk mencari ilmu terkait dengan pengetahuan dalam berkeluarga. Berikut materi singkat yang insya Allah bermanfaat yang sempat saya rangkum. Diawali dengan pengantar, kedudukan Ibu dalam agama Islam.

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun…” (QS. Luqman: 14)

“Dan Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada ibu bapaknya. Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandung dan menyapihnya adalah tiga puluh bulan…” (QS. Al-Ahqaf: 15)

Ibu memiliki kedudukan yang sangat tinggi, seperti yang sudah disebutkan dalam Al-Qur’an surat Al-Ahqaf dan Luqman, banyak tugas-tugas yang hanya bisa dilakukan oleh perempuan, para Ibu. Visi yang diamanahkan kepada seorang Ibu juga tidak main-main, yakni membangun peradaban. Berat ya? Jujur kalau bagi saya itu terdengar ngeri dan terasa sangat berat, jangankan membangun peradaban, membangun diri sendiri saja terkadang masih terseok-seok. Tetapi hal yang tidak bisa dipungkiri adalah, saya perempuan, dan insya Allah akan menjadi Ibu suatu saat nanti, cepat atau lambat. Jadi siap tidak siap harus menjalankan visi besar itu. Teh Patra memaparkan bahwa pada dasarnya ibu memiliki visi serta misi yang cukup mulia, namun saat ini para perempuan sedang diterjang badai emansipasi yang terkadang tidak menempatkan mereka sesuai kodratnya. Badai emansipasi ini seringkali membiaskan kaum perempuan tentang visi besar yang diamanahkan pada mereka, terutama bagi yang sudah menjadi ibu. Bahkan banyak dijumpai perempuan yang justru cenderung iri terhadap kaum pria, merasa tidak mau kalah bahkan harus disamakan, padahal kaum pria saja tidak pernah iri ketika perempuan dikaruniai kemampuan untuk mengandung, melahirkan dan menyusui. Iya juga ya, saya pun hingga saat ini belum pernah mendengar ada laki-laki normal yang iri akan hal itu.

Pada intinya, sering sekali permasalahan yang muncul itu sebenarnya terletak pada kita sendiri, perempuan. Kalau mau belajar dari sejarah, lanjut Teh Patra, ternyata banyak contoh ibu-ibu hebat, diantaranya : 1. Ibunya Imam Syafi’i (Fathimah binti Abdullah), ketika Imam Syafi’i masih kecil sudah menjadi yatim dan Ibunya meminta kepada seorang guru agar Imam Syafi’i diajarkan banyak ilmu hingga Imam Syafi’i hafal keseluruhan Al-Qur’an pada umur 9 tahun dan sudah dapat mengeluarkan fatwa ketika berusia 15 tahun. 2. Ibu dari Imam Bukhari, ketika kecil Imam Bukhari buta, ibunya terus berdoa kepada Allah sampai akhirnya Imam Bukhari dapat melihat, dan sebagai bukti rasa syukur ibu dari Imam Bukhari yang mendorongnya untuk belajar hingga hasil belajarnya bisa kita pelajari juga saat ini. Maka, yang perlu direnungkan adalah jika memang aktif dan memiliki banyak kegiatan di luar rumah, tanyakan lagi pada diri kita, tujuannya apa? Tidak sedikit perempuan yang alasan aktifnya hanya untuk aktualisasi diri. Setelah lulus sarjana, bingung mau apa lalu melanjutkan jenjang berikutnya, bahkan ada juga yang beralasan tidak mau melepaskan titel mahasiswa! JLEB kesentil banget saya saat Teh Patra menyebutkan hal yang ini. Tanyakan juga motivasi diri kita dalam hidup, mau apa sebenarnya kita? Ini yang perlu diwaspadai oleh kaum perempuan, jangan sampai terlenakan oleh alasan-alasan semu untuk aktualisasi diri. Bukan berarti tidak boleh beraktifitas di luar rumah, akan tetapi perlu diluruskan niat dan motivasinya, kalau bisa justru buatlah diri kita bermanfaat untuk sekitar ketika memutuskan untuk aktif di luar rumah sehingga waktu yang kita habiskan di luar rumah worth dan bermanfaat. Dan satu lagi catatan pentingnya, kaum perempuan juga harus tetap menjalankan kewajiban utamanya di rumah, dalam kasus seperti ini perempuan memang dituntut pintar dalam manajemen waktu antara kewajiban di rumah dan waktu aktif di luar rumah.

“Ibu yang baik, bukanlah ibu yang sempurna. Jangan kira saya ketika punya anak di umur 18 tahun saya langsung bisa menjadi ibu yang baik. Semua itu proses dan belajar…” – Teh Patra  [Bersambung ke part 2]

Advertisements

About dikabeast

A complex mind in plain personality
This entry was posted in Sharing and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s