Ketika Penghasilan Pengemis begitu Mempesona

“Kalau mau kasih orang itu prinsipnya kayak ngising Ka, ra sah dipikir meneh pemberianmu mau diapakan…”Bapak

imagesBelum lama ini media tengah heboh memberitakan tentang pengemis di Bandung yang mengajukan gaji besar ketika ditawari pekerjaan oleh walikota Bandung (yang baru)1.  Akun media sosial saya dibanjiri macam-macam komentar mengenai pemberitaan itu, bahkan tidak sedikit pula yang terkesan nyinyir. Saya sendiri sebenarnya sudah sejak lama tergelitik oleh isu tersebut, tulisan dari kompasianer berikut (http://sosbud.kompasiana.com/2012/07/01/menelisik-strategi-pengemis-blok-m-meraup-rp-15-juta-sebulan-473815.html) merupakan salah satu sumber penggelitiknya sejak sekitar dua tahun yang lalu. Dan ya, saya termasuk orang yang sangat kaget dan langsung menganggap bahwa semua pengemis itu sama saja, seperti itu-itu juga. Pernah juga beberapa kali saya melihat pengemis memiliki handphone yang bahkan lebih canggih dari milik saya. Saya memutuskan untuk tidak akan memberi uang kepada pengemis dan orang jalanan semacam itu. Jujur, saya merasa gemas dan geram ketika itu, atau mungkin masih sampai sekarang.

Saya merupakan pengguna motor yang cukup aktif sehingga hampir setiap hari bergelut di lalu-lintas terutama kota Bandung. Dilema, salah satu judul lagu dari girlgroup yang kini sedang famous di Indonesia ini menjadi kata yang sangat mewakili perasaan saya saat berhenti di lampu merah. Dalam pandangan saya, setelah membaca beberapa artikel terkait tentang pengemis, memberi uang kepada mereka itu perbuatan yang kurang mendidik, membuat manja , tidak menyelesaikan masalah, dan bisa jadi menambah masalah baru karena banyak pengemis yang sukses dan meraup banyak uang, setiap kali pulang ke desa, tetangga-tetangganya pun tertarik untuk mengemis juga karena penghasilan yang menjanjikan. Alhasil, pengemis dan orang jalanan terus bertambah. Padahal, dalam pasal 504 dan pasal 505 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), buku ke-3 tentang Tindak Pidana Pelanggaran tertera larangan larangan untuk mengemis dan menggelandang . Sedangkan pemerintah DKI Jakarta juga sudah memerintahkan aturan mengenai larangan untuk mengemis, juga larangan untuk orang yang memberi uang ataupun barang pada pengemis dalam Perda DKI Jakarta No. 8 Tahun 2007 tentang Ketertiban Umum (Perda DKI 8/2007) pasal 40 2. Bahkan, MUI pun sempat mengeluarkan fatwa haram terkait dengan memberi uang kepada pengemis3, ya terlepas dari pro dan kontra nya tentu saja. Dari serentetan fakta, peraturan dan fatwa MUI, dapat disimpulkan bahwa perbuatan memberi uang kepada pengemis itu tidak baik, tidak mendidik dan sebaiknya tidak dilakukan. Saya sangat setuju dengan hal ini, dan sering sekali menyampaikan hal positif ini kepada orang lain agar lebih baik tidak memberi kepada pengemis dengan alasan-alasan yang sudah dipaparkan di atas. Sampai suatu saat, ketika Bapak saya datang ke Bandung dan seperti biasa kami pergi untuk berjalan-jalan, aji mumpung Bapak lagi di Bandung jadi bisa makan enak (otak mahasiswa). Ketika berhenti di perempatan Jalan Soekarno-Hatta, ada pengemis yang menghampiri kendaraan kami, Bapak kemudian memberi pengemis tersebut uang. Melihat kejadian tersebut, sontak saya mengemukakan pendapat saya bla bla bla dan BAM Bapak berkata dengan nada agak tinggi yang kurang lebih seperti ini,

“Kalau nggak ngasih ya udah diem aja, nggak usah komentar! Nggak bisa maksain orang untuk kayak gitu juga. Prinsip Bapak, kalau mau kasih orang nggak usah mikir-mikir, mau orangnya bohong atau bagaimana, yang menilai kan Allah!”

membuat mulut saya terkatup dan berhenti memaparkan alasan-alasan dan pendapat logis tentang pengemis. Dalam hati, saya masih gemas, tapi karena Bapak berkata dengan nada agak tinggi, jadi saya memutuskan untuk diam saja, mungkin karena saya menyampaikannya agak ngotot juga, kurang mengenakkan. Itu kali pertama saya mulai berpikir ulang tentang masalah memberi uang pada pengemis. Hingga saat ini pun saya masih dilanda dilema ketika berhadapan dengan pengemis. Adu argumen atau secara halus sebut saja diskusi dengan Bapak tentang pengemis yang pertama memicu timbulnya diskusi-diskusi selanjutnya menyangkut isu yang sama, sampai sekarang. Jadi, ketika isu tentang pengemis menyeruak kembali, tentang meminta gaji tinggi, otomatis diskusi semacam ini juga berulang. Dan setelah berkali-kali mendiskusikan hal ini, timbul kesadaran pada diri saya, bahwa berkomentar dan mencerca saja juga bukan sikap yang baik. Selain itu ada juga pendapat kontra yang menganggap larangan memberi kepada pengemis boleh ada jika dapat dipastikan sudah tidak ada kemiskinan, karena larangan saja tanpa memberikan solusi pada pengemis seperti lapangan kerja dan tempat tinggal pun tidak menyelesaikan masalah4.

“Kalau mau kasih orang itu prinsipnya kayak ngising Ka, ra sah dipikir meneh pemberianmu mau diapakan. Semisal Bapak ini, ngasih duit ke kowe mbuh mau disobek apa mau diapain ya terserah!”  

Kalau dipikir-pikir iya juga pendapat Bapak yang ini, bukankah kunci keikhlasan itu ketika kita lupa dan sudah tidak ingat apa-apa lagi setelah memberi, seperti orang buang air besar, kita tidak berpikir kotoran itu mengalirnya kemana dan akan jadi apa.

Saiki gini, coba nek posisinya dibalik, kamu yang di pihak pengemis. Opo iyo kabeh pengemis itu penghasilannya besar? Nggak juga kan? Bisa jadi ada pengemis yang benar-benar tidak mampu dan membutuhkan pertolongan. Terus gimana kalau seperti itu? ”

Ya saya pun belum bisa menjawab pertanyaan Bapak yang ini.

“Analoginya gini aja lah, kita sering geram ketika ada pengemis atau orang yang di jalanan sampai pura-pura sakit, tangannya patah, kakinya hilang, itu seharusnya jadi introspeksi buat kita. Bukan berarti Bapak membenarkan perbuatan pengemisnya, itu tetap salah dan tidak benar, tapi setidaknya sebelum menyalahkan orang lain kita lihat diri kita dulu. Orang sampai harus bohong-bohong gitu biar bisa dapat uang, itu cerminan dari betapa pelitnya kita. Bohong-bohongan gitu aja belum tentu ada yang ngasih opo meneh nek jujur? ”

Ini juga saya serasa ditampar. Sungguh, selama ini saya berarti sudah berprasangka buruk pada pengemis-pengemis yang saya temui. Padahal belum tentu semua pengemis itu memiliki penghasilan besar, walaupun sudah dilakukan penelitian dan hasilnya memang tidak sedikit pengemis yang berpenghasilan super wow, tetapi tetap saja tidak menutup kemungkinan adanya pengemis yang benar-benar kesusahan. Jadi kalau saya berpikiran seperti itu, saya sudah berburuk sangka dan menuduh orang yang belum tentu seperti itu. Saya jadi ingat perkataan seorang ustadz, bahwa lebih baik salah membela dari pada salah menuduh, karena salah membela yang akan malu diri kita sendiri sedangkan salah menuduh akan berdampak buruk bagi yang dituduh jika ternyata salah, harus melakukan pemulihan image yang pada prakteknya sangat tidak mudah. Salah menuduh sangat dekat dengan fitnah. AstaghfiruLlah…

 “Kalau ada orang yang banyak komentar, menghakimi pengemis, bahkan sampai bilang mereka itu perlu bekerja banting tulang untuk dapat uang sedangkan pengemis bisa dapat uang banyak tanpa perlu bekerja keras, perlu dipertanyakan keyakinannya pada Allah. Allah yang kasih rejeki, kalau mereka berkata sepeti itu kok kesannya sombong sekali bahwa rejeki itu hanya dari usaha mereka saja… ”

Kalau dipikir-pikir iya juga ya. Padahal, bagi muslim, seharusnya tetap bangga dan bersyukur dengan rezeki yang didapat dengan kerja keras yang halal, bukannya malah membandingkan dengan penghasilan pengemis.

“ Dari ‘Abdullah bin ‘Umar, ia berkata bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Jika seseorang meminta-minta (mengemis) pada manusia, ia akan datang pada hari kiamat tanpa memiliki sekerat daging di wajahnya.” (HR. Bukhari)

“Masalah negara ini terutama sosial itu rumit banget Ka. Bapak sangat mendukung kalau sampai sudah tidak ada lagi pengemis di jalanan, itu bagus sekali jika diusahakan. Kenapa banyak pengemis dan anak jalanan? Itu mungkin saja karena memang tingkat kemiskinan masih tinggi, mencari lapangan kerja susah. Jadi nggak bisa dipaksain juga tidak boleh memberi, urusan memberi itu kan yang menilai Allah Ka. Harus dilatih kita kasih orang nggak usah mikir lagi uangnya mau buat apa, ternyata orang yang dikasih itu penghasilannya lebih besar dan lain sebagainya.”

Intinya Bapak berpendapat, saya harus berlatih memberi pada orang tanpa harus berpikir pemberian itu akan diapakan, bahkan jika dibuang sekalipun. Walaupun ada benarnya juga, salah satu teman memberikan pernyataan di media sosial bahwa ‘bersedekah dan memberi pun harus cerdas’, tetapi pada dasarnya bersedekah atau memberi itu yang menilai Allah, jadi mau cerdas atau pun tidak cerdas kita ikhlaskan saja karena Allah. Jujur, buat saya itu tidak mudah dan harus terus belajar. Jika memang merasa tidak nyaman dengan memberi pengemis di jalan, langkah yang baik juga memanfaatkan lembaga-lembaga pengumpulan zakat dan infak atau memanfaatkan kotak infak di masjid, dengan catatan tanpa harus nyinyir dan menghakimi pengemis serta yang memberi pada pengemis, stop berburuk sangka sebisa mungkin. Kebijakan pemerintah kota Bandung baru-baru ini mungkin salah satu usaha yang positif untuk menyelesaikan masalah pengemis dan orang jalanan, rencananya pemkot akan menyediakan tempat tinggal, makanan dan lapangan pekerjaan5. Memang tidaklah mudah mengatasi permasalahan sosial seperti ini, namun tidak ada yang sia-sia, walaupun memerlukan waktu yang tidak sebentar. Mau memberi pada pengemis atau tidak, itu terserah pada hati masing-masing, ini hanya sekedar opini saja dan fyi, sampai sekarang kecenderungan hati saya masih bertahan untuk tidak memberi pada pengemis di jalan, karena menurut saya, ketika saya memberi kepada pengemis konsekuensinya saya juga harus membeli barang dagangan penjual-penjual yang menawarkan pada saya ketika di jalan, dalam rangka meminimalisir bertambahnya jumlah pengemis serta menghargai usaha orang yang menjemput rejeki dengan cara yang baik, tentunya itu perlu menyisihkan uang yang tidak sedikit (indikasi pelit, astaghfiruLlah). Oh iya kata Bapak, kalau nggak ngasih diam saja nggak usah komentar! Oke sip Babe 😀

sumber gambar

sumber :

1) http://www.tribunnews.com/regional/2013/10/01/ditawari-kerja-jadi-penyapu-jalan-pengemis-bandung-minta-gaji-rp-10-juta

2) http://www.hukumonline.com/klinik/detail/lt4fee501013df8/sanksi-hukum-bagi-pengemis-dan-pemberi-uang-kepada-pengemis

3) http://www.dakta.com/berita/nasional/37306/mui-haram-hukumnya-memberi-sedekah-bagi-pengemis-di-perempatan.html/

4) http://news.detik.com/read/2009/08/31/142513/1193182/10/perda-larangan-memberi-sedekah-tidak-masuk-akal

5) http://www.klik-galamedia.com/kami-butuh-makan-tak-cukup-hanya-nasihat

Advertisements

About dikabeast

A complex mind in plain personality
This entry was posted in Opini, Sharing and tagged , , . Bookmark the permalink.

4 Responses to Ketika Penghasilan Pengemis begitu Mempesona

  1. deeyansuch says:

    wow, artikelnya ini juga cocok dimuat di komp*si*n* dik 😀

    Like

  2. Setuju bgt sama kalimat terakhirnya, Dik.. hha

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s