The Rising Star, Prau

IMG_9834

“Sungguh, pada langit dan bumi benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang mukmin” – Q.S Al-Jaatsiyah : 3

“Dan Dia menundukkan apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi untukmu semuanya (sebagai rahmat) dari-Nya. Sungguh, dalam hal yang demikian benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang BERPIKIR” Q.S Al-Jaatsiyah : 13

Jika mendengar kata Prau dan dikaitkan dengan gunung, hampir dapat dipastikan yang terlintas dalam pikiran kita adalah Gunung Tangkuban Prahu yang terletak di Bandung dan terkenal dengan kawah domasnya yang memikat. Namun, nama “Prahu” ataupun “Prau” ternyata juga menjadi nama sebuah gunung di Jawa Tengah. Gunung Prau yang sebelumnya terasa asing kini mulai naik daun, walaupun belum terlalu populer. Lokasi tepatnya berada di kawasan pegunungan Dieng dan Prau merupakan salah satu puncak tertinggi di Dataran Tinggi Dieng, dengan ketinggian 2.565 mdpl [1]. Gunung ini menawarkan pemandangan yang sungguh luar biasa, pada puncak Prau dapat terlihat 5 gunung berjejer Sindoro, Sumbing, Merapi, Merbabu dan Lawu terutama ketika cuaca sedang sangat bersahabat. Selain itu dari sisi yang lain terlihat juga puncak Gunung Slamet yang merupakan gunung tertinggi di Jawa Tengah. Beberapa keterangan itulah yang membuat saya terpanggil untuk menyambangi gunung tersebut.

Bulan Mei lalu tepatnya menjelang pemilukada Banyumas, beralasan sebagai warga yang baik, saya berencana pulang ke Purwokerto untuk turut berpartisipasi dalam kegiatan yang “katanya” merupakan pesta demokrasi rakyat tersebut. Setelah mengumpulkan massa untuk teman perjalanan melalui dunia maya, saya berangkat dari Bandung kamis (23/5) malam, dengan mengantongi rencana pendakian yang akan dilakukan esok hari. Ternyata rencana tidak semulus yang saya bayangkan, dalam perjalanan Purwokerto-Bandung saya terjebak macet yang membuat kendaraan yang saya naiki tidak bergerak selama hampir 3 jam disebabkan adanya kecelakaan antara bis dan truk. Alhasil saya sampai Purwokerto sekitar 7.30 pagi, padahal dalam perkiraan, saya akan sampai sekitar subuh kemudian istirahat sebentar dilanjutkan berangkat ke Wonosobo (meeting point) sebelum jam 7. Sesampai saya di rumah, sudah ada dua anak di bawah umur yang menanti saya untuk berangkat. Ya, saya mengajak adik saya yang paling bungsu beserta teman sebangkunya, mereka berdua bolos sekolah (pengaruh buruk kakak). Dengan tergesa saya mandi sekenanya, berkemas dan cek akhir barang bawaan. Akhirnya kami bertolak ke Wonosobo sekitar jam 8.30 . Rasanya badan masih mrengkel tapi keindahan lukisan Allah yang nanti akan saya lihat di puncak sudah terbayang, sehingga memupuskan letih yang sudah menggelayuti. Perjalanan ke Wonosobo hampir saya lewatkan hanya dengan tidur untuk mengisi energi. Selomerto sudah terlewati, menandakan sudah dekat dengan Wonosobo. Salah satu teman perjalanan yang telah menunggu di meeting point memberikan informasi bahwa ada 2 jenis bis Purwokerto-Wonosobo yang berbeda, yang satu jalurnya melewati tempat meeting point dan yang lainnya tidak karena jalurnya berputar dan langsung ke terminal. Dan saya beserta dua anak di bawah umur, kebetulan menaiki bis jenis kedua. Berdasarkan informasi dari kernet bis cebongan itu, kami turun sebelum bis berputar kemudian berganti naik angkot kuning untuk sampai ke meeting point sekitar 10-15 menit. Sekitar jam 10.30 kami sampai, di sana sudah menunggu satu orang teman saya, dan kami masih harus menunggu 3 orang lagi yang bertolak dari Semarang dan Wonosobo yang akhirnya datang sekitar jam 11.20. Mereka sempat bingung mencari letak meeting point kami.

Setelah semua lengkap berkumpul, kami berangkat menuju Dieng dengan bis yang sedari tadi menunggu kami untuk dibawa ke Dieng. Sekitar jam 12.10 kami sampai di Basecamp Desa Patakbanteng. Sekedar informasi, untuk mencapai puncak Prau di antaranya ada 2 jalur, yaitu via Desa Patakbanteng dan via Dieng (SMP 2 Kejajar). Jalur pertama bisa dikatakan lebih dekat jaraknya namun medannya lumayan curam dan sedikit sekali ada jalan landai kecuali sudah dekat dengan puncak, lama perjalanan sekitar 2,5 – 3 jam jalan lumayan santai. Sedangkan jalur kedua jaraknya lebih jauh karena berputar, tetapi medannya lebih bersahabat namun tetap saja jika tidak berhati-hati rentan terpeleset juga, apalagi jika sehabis hujan.

Kami memutuskan untuk naik melalui Desa Patakbanteng (CP : Mas Pi’i – 085228283428) dan turun melalui jalur Dieng. Kebetulan salah satu dari kami ada yang sudah pernah sampai ke puncak Prau, tapi sedikit kurang beruntung karena saat itu cuaca terus hujan dan tidak dapat penampakan si matahari hingga turun. Sekitar pukul 14.15 setelah sholat dan makan siang, kami mulai pendakian dan alhamduliLlah cuaca cukup bersahabat. Setelah melewati kumpulan bebatuan, pepohonan dan tanjakan demi tanjakan yang semakin curam, di pertengahan perjalanan kami menemukan sang surya sebelum tenggelam, saya melihatnya ketika belum sampai puncak (maklum kura-kura, slowly but sure). Yang mencengangkan 2 orang pertama yang sampai puncak dengan jarak yang lumayan jauh, salah satunya adalah ADIK saya. Super sekali itu anak di bawah umur jalannya kayak kancil. Sedangkan temannya yang satu lagi mungkin mirip sama saya, yang penting sampai dengan selamat ,hahaha. Setelah menemukan jalan landai yang amat panjang, saya sangat kegirangan karena sebentar lagi sampai puncaaaaaaaak! Tetapi di depan saya sudah jauh sampai puncak dan di belakang saya masih jauh karena berlama-lama di spot kemunculan matahari sebelum tenggelam tadi. Agak horor juga berjalan sendirian di hari yang mulai beranjak gelap.

1

Pake kamera smartphone nofilter

Keseluruhan dari kami berhasil menapaki puncak sekitar hampir jam 6 sore, jadi perjalanan kurang lebih 2,5 jam dengan ritme sedang (tidak terlalu santai, tidak terlalu cepat) dan durasi berhenti istirahat yang hanya sebentar. Sesampai di puncak saya langsung berburu sunset, tapi nampaknya sedikit terlambat karena matahari yang saya lihat sudah hampir tenggelam sempurna.

2

Sinar jingga matahari hampir tenggelam sempurna. Pengeeen terbaaaaaang uwooooo. Subhanallah!

Setelah puas mengantar matahari tenggelam, kami mulai mendirikan tenda. Dan baru kami sadari bahwa malam itu adalah malam bulan purnama penuh, wow. Pertama kali sampai tidak ada pendaki lain yang menginap kecuali kami bertujuh, sampai sekitar jam sebelas malam baru ada 4 orang yang juga membuka tenda. Keesokan harinya kami kembali berburu matahari. Kebanyakan pendaki yang mencari matahari terbit melakukan pendakian tektok, berangkat tengah malam, sehingga ketika sampai sudah menanti matahari terbit kemudian pulang.

3

Fullmoon lensa gak support

5

Detik detik menjelang terbit. Lawunya cuma keliatan seuprit ketutupan kabut

4

Malu malu ngintip

IMG_9833

Here it comes…

Ketika matahari mulai menyingsing agak tinggi, kami sarapan pagi dan setelah itu membereskan tenda persiapan turun karena kabut sudah mulai meninggi. Kami turun sekitar jam 10 dan sampai Dieng menjelang sore, perjalanan turun memang kami lebih santai. Sedih rasanya harus berpisah dari pemandangan indah itu.

IMG_9866

Biarpun di gunung sarapan tetep pasta donk

"Saatnya tabi berpisah, saatnya tabi berpisah.." Ohhhh tidaaaak

“Saatnya tabi berpisah, saatnya tabi berpisah..” Ohhhh tidaaaak!

IMG_9911

Telaga warna dari atas pemandangan saat perjalanan pulang

Kondisi di Prau cukup dingin ketika itu dan kami sangat bersyukur karena hingga kami sampai Dieng hujan sama sekali tidak turun. Kami baru diguyur hujan sesampai di Dieng. Setelah di basecamp kami berkemas dan tak lupa bebersih diri untuk kembali ke perkotaan. Mendaki gunung Prau ini sangat saya rekomendasikan untuk pemula juga untuk pendaki yang sedang malas mengeluarkan effort besar tetapi ingin mendapatkan kesegaran mata maksimal. View di Prau ini ciamik sekali, mulai dari penampakan jajaran 5 gunung dan penampakan mataharinya, bukit teletubbies, pemandangan kota Dieng dari atas, penampakan puncak Slamet, padang ilalang, serta hamparan ladang bunga daisy yang cantik. [dikabeast]

 [1] http://id.wikipedia.org/wiki/Gunung_Prahu

Advertisements

About dikabeast

A complex mind in plain personality
This entry was posted in Article, Sharing and tagged , . Bookmark the permalink.

3 Responses to The Rising Star, Prau

  1. wew, udah ke sini aja, aku rencana akhir Juni kemarin tapi batal T.T

    eh, ikutan proyek nulisku donk dik 😀
    di http://bit.ly/nolkilo

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s