Secangkir Semangat dari Pesantren Kolong

Lebih baik mati terlupakan, daripada harus menyerah

kepulan asam hitam mulai ramai di jalanan
hilir-mudik pengamen mengiringi laju lambat kendaraan
antrian padat menghiasi tiap sudut lalu lintas
tangan-tangan penuh belas kasihan menggelayuti kuda-kuda besi
koran-koran pagi hangat mulai beredar berharga tawar

tangan anak-anak
pengamen anak-anak
loper anak-anak
semua serba semakin banyak anak-anak

yang semestinya duduk manis di bangku kelas
menanti si pengantar ilmu
bukan duduk termangu di pinggir trotoar
menanti mata tiga lalu lintas memancarkan sinar merah
menanti nafkah yang telah hilang termakan kemiskinan [1]

***

Selepas hujan siang tadi, saya bersama teman-teman lain yang tergabung dalam sebuah organisasi di kampus, melangkahkan kaki menuju sebuah tempat. Tempat dimana bau sampah yang sangat menyengat, teriring kebisingan lalu lintas yang nyaring dan suasana yang jauh dari kata layak. Senyum selalu berusaha saya pasang di wajah ini, walaupun dalam hati bisa dibilang saya ingin berteriak  “Masih bisa kamu mengeluh, Andikaa!! Masih bisa kamu malas??”. Tepat sembilan hari menuju Ramadhan (lagi), dan ada pelajaran yang saya petik hari ini dari tempat yang terletak di bawah kolong jalan flyover, tepatnya di bawah Flyover Pasupati , Jalan Cihampelas. Pesantren Kolong Nurul Hayat, ya sebuah pesantren. Pada awalnya saya mendengar ini pun saya agak terperangah, jujur baru kali ini saya mendengar ada sebuah pesantren yang berada di bawah kolong jembatan dan bersantrikan anak-anak jalanan.

gambar 1

Welcome!

gambar 1-1

Suasana di sebelah pesantren

Kami mengadakan sebuah kegiatan yang bertujuan untuk menyambut kedatangan bulan Ramadhan sekaligus (sangat sedikit) bentuk kepedulian sosial kami pada anak jalanan. Niatnya, agar bisa memberikan kebahagian dan keceriaan walaupun mungkin hanya sebentar pada mereka dengan membagikan bingkisan sederhana.

gambar 2

Maafkan, baru ini yang bisa kami persembahkan

Pesantren Kolong ini tercetus dari keprihatinan kedua orang sahabat, yang prihatin akan masalah jalanan kota Bandung. Satu orang dari tanah Sumatra dan satu orang lagi dari Jogjakarta, bertemu di Bandung dan memiliki minat yang sama untuk concern ke permasalahan sosial. Analisis masalah jalanan Bandung diantranya banci kaleng/waria, anak jalanan dan pengemis. Kedua sahabat ini sangat tertarik pada masalah anak jalanan dan merasa belum ada program pemerintah yang jelas mengenai permasalahan anak jalanan. Ini hal yang saya sangat apresiasi dari bapak-bapak yang mungkin usianya sudah tidak semuda saya lagi, alih-alih merutuki ataupun menghina pemerintah, mereka memilih untuk merintis semacam sekolah atau rumah belajar untuk anak jalanan. Karena faktanya, tidak sedikit anak jalanan yang bahkan tidak bisa membaca ataupun menulis. Mereka tidak memandang anak jalanan sebelah mata, karena pada dasarnya tidak ada seorangpun yang bercita-cita ingin hidup di jalanan. Lahirnya anak jalanan, setelah mereka melakukan riset selama beberapa waktu itu ada 2 hal penyebabnya yaitu pada keluarga tidak kuat secara keimanan dan tidak kuat secara keilmuan. Sedangkan anak jalanan pun ada 3 model, yang murni murni (dari lahir hingga mencari nafkah di jalan), yang rentan ke jalan (masih memiliki orang tua namun mencari nafkah di jalan) dan yang masih bersosialisasi dengan masyarakat selain jalanan tetapi sudah mulai beraktivitas ke jalan.

Deg. Saya sungguh tersindir bukan main, di saat ada orang-orang konkrit seperti mereka, saya malah terkadang memiliki pikiran negatif terhadap anak jalanan. Dan kenyataannya, sekarang ini banyak orang-orang yang bisanya hanya mencaci anak jalanan tanpa memberikan solusi. Setidaknya jika kita tidak bisa memberikan kontribusi, janganlah terlalu nyinyir dan merasa paling benar, itu hal yang selalu saya ingat dan camkan dalam diri saya walaupun terkadang pikiran buruk juga tetap saja melintas.

Banyak orang konkrit seperti mereka, karena pesantren kolong mungkin hanya salah satu bukti nyata kekonkritan orang-orang itu terhadap anak jalanan. Di Bandung saja ada beberapa komunitas yang memberikan perhatian lebih terhadap anak jalanan. Namun, yang menarik pada pesantren kolong adalah adanya kurikulum yang rapi dan target semua santrinya dapat bersekolah pada sekolah formal. Karena menurut mereka ilmu/sekolah/belajar lah yang dapat membuat perubahan. Jadi di pesantren kolong ini kurikulum pendidikan serta pengajaran terbilang cukup terorganisir bahkan untuk menerima pengajar saja mereka melakukan seleksi. Saat ini hanya tinggal sekitar 35-50 % santri yang belum bersekolah formal.

gambar 3

Serunya bermain

Pertanyaannya, kenapa harus diberi nama pesantren? Salah satu alasannya adalah karena semua anak jalanan yang ada di sana beragama Islam, juga supaya menjadi motivasi bagi anak-anak yang tinggal di sana bahwa mereka tinggal di pesantren bukan di kolong jembatan, sehingga dapat bersikap baik layaknya santri. Satu hal yang lucu di pesantren kolong, yaitu jika ada anak yang berkata kotor atau kasar akan dikenai denda sebesar gope atau 500 rupiah. Ide yang unik menurut saya, karena sebuah kebiasaan baik berawal dari hal-hal kecil seperti itu.

Misi dan mimpi pesantren kolong pada dasarnya sangat sederhana yaitu agar anak-anak jalanan berkurang, tidak bertambah, kalau bisa berpindah dari jalanan misalnya jadi pengusaha ataupun mungkin suatu saat akan ada mentri bahkan presiden yang berasal dari pesantren kolong. Luar biasa! Cita-cita yang membuat hati saya bergetar sekaligus membuat saya malu.

gambar 4

Ngantri mau pecahin balon terus dapat kado 😀

semoga bermanfaat

Semoga bermanfaat ya!

Pada acara siang tadi, suasana sangat riuh dan anak-anak terlihat gembira, membuat kami yang bertandang ke sana larut dalam keceriaan. Beginilah adegan yang terjadi ketika anak-anak sudah mulai tidak fokus pada acara, Pak Ustadz yang merupakan salah satu dari kedua sahabat pencetus rumah kolong sekaligus menjadi pendamping kami siang tadi, akan meneriakkan hal-hal yang sepertinya sudah menjadi amunisi untuk membakar semangat mereka.

Pak Ustadz : Adik-adik..

Anak-anak : SIAP!!

Pak Ustadz : Salam Indonesia!

Anak-anak : MERDEKA!!

Pak Ustadz : Allahu Akbar!

Anak-anak : Allahu Akbar!

Di pertengahan acara, ada penampilan khusus dari anak-anak pesantren kolong, membawakan dua lagu. Lagu terakhir sungguh membuat saya ingin meneteskan air mata, karena liriknya cukup membuai hingga saya dapat merasakan semangat untuk terus menyongsong masa depan. Satu bait liriknya “….Lebih baik mati terlupakan daripada harus menyerah…”. We have to live to the fullest, anyway. Don’t just complain!

last

[1] Curahan sajak yang pernah saya tulis di : http://digilmu.blospot.com

Advertisements

About dikabeast

A complex mind in plain personality
This entry was posted in Article, Sharing and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

4 Responses to Secangkir Semangat dari Pesantren Kolong

  1. Nurrahman says:

    Keren dik, sungguh menginspirasi. Sekolah di alam kayaknya menyenangkan

    Like

  2. nice post,
    jadi berfikir kpn bisa berkontribusi juga, duh.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s