Degradasi Makna Kata Maaf

“Meminta maaf adalah sikap yang KSATRIA , dan memaafkan adalah sikap yang MULIA” – Anonim

minta maaf 2

Di suatu minggu pagi yang segar dan cerah, seseorang sudah terlihat bergegas akan berangkat ke suatu tempat yang sangat ingin didatanginya sejak setahun yang lalu. Tidak terlalu jauh dari tempat dia tinggal saat ini, namun baru kali itu dia sempat menyisihkan waktu luangnya untuk berkunjung ke sana. Malam sebelumnya, dia menyiapkan segala sesuatunya mulai dari perlengkapan, kebutuhan logistik dan tentu saja uang. Dia sengaja tidur jauh lebih awal agar dapat bangun lebih pagi dari biasanya, karena tempat menampilkan pemandangan terindah tepat pada pagi hari. Dan kebetulan untuk berangkat ke sana, dia tidak sendiri, ada seorang teman (sebut saja Bunga), yang meminta ikut. Akhirnya diputuskan untuk bertemu pada meeting point pukul 5.30 pagi. Tepat sebelum subuh dia mandi, kemudian sholat subuh dan bersemangat menuju tempat pertemuan dengan Bunga, tidak lupa dia mengirimkan pesan ke Bunga agar sama-sama berangkat.

Di tempat perjanjian….

Setengah jam kemudian…..

‘ Bunga, buruan nih keburu siang! Aku udah di TKP.’ – Pesan terkirim untuk Bunga

‘ Oke bentar lagi ’ – Balasan dari Bunga

Setengah jam lagi setelahnya…

“Halooo Dauun…!” teriak Bunga dari kejauhan sambil agak ngos-ngosan karena berlari

“Lama banget sih Bung, kan aku udah bilang kita harus pergi pagi soalnya urgent banget, kalo udah agak siang kita nggak dapet nih view nya!” seloroh Daun pada Bunga setelah jarak mereka dekat dengan nada agak sedikit kesal

“Maaf ya Daun, aku terlambat, aku tadi kesiangan..” dengan senyum lebar

“Kok kesiangan emang kenapa? ” tanya Daun

“Iya soalnya tadi malem aku belum beres-beres yang harus dibawa hehehe…” meringis tanpa rasa bersalah Rr%$#@&*@##!#!Rrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr!

***

Sikap meminta maaf ataupun memaafkan adalah sikap yang sama terpujinya, dalam ajaran apapun kedua sikap ini adalah sikap yang  sangat dianjurkan dan dapat memberikan ketenangan hidup. Bahkan sebuah riset menyatakan, sikap memaafkan ternyata sangat bermanfaat untuk kesehatan 1). Beberapa manfaat dari sikap memaafkan adalah terhindar dari penyakit darah tinggi, menurunkan resiko penyakit jantung dan sebagainya 2) 3). Sedangkan meminta maaf itu juga salah satu kunci ketenangan hidup, karena secara  psikologis  dan  teologis  kita  tidak  boleh  memendam   perasaan   bersalah ( guilty feeling  ), perasaan bersalah yang merasuk di dalam hati akan menjadi beban psikologis yang berat bagi seseorang 4).  Sungguh menakjubkan memang efeknya, wajar jika tantangannya pun berat. Memaafkan ataupun meminta maaf sebenarnya tidak mudah, karena perlu mengesampingkan ego diri sendiri.

Dalam Al-Qur’an juga disebutkan,

“…..tetapi barang siapa yang memaafkan dan berbuat baik (kepada orang yang berbuat jahat) maka pahalanya dari Allah. Sungguh Dia tidak menyukai orang-orang zalim.” (Q.S. As-Syuuraa : 40)

“Tetapi barang siapa yang bersabar dan memaafkan, sungguh yang demikian itu termasuk perbuatan yang mulia.” (Q.S. As- Syuuraa : 43)

Namun, tidak jarang ditemui kata “maaf”, “sorry”, “afwan” dan sejenisnya terucap hanya sekedar menjadi excuse saja tanpa makna kata maaf itu sendiri. Setidaknya itu yang seringkali saya pribadi rasakan. Bukan berarti menyalahkan tradisi bermaaf-maafan ya, pada dasarnya saling memaafkan itu baik, tapi poinnya, sekarang ini kata sejenis itu menjadi apa ya, mungkin bisa dibilang senjata untuk membenarkan kesalahan yang dilakukan, tanpa adanya perbaikan. Hmm, maksudnya begini, semua kesalahan menjadi tidak berasa kesalahan dengan digunakannya permintaan maaf. Sekali lagi, ini bukan menyalahkan kegiatan saling memafkan ya!  Banyak orang (mungkin termasuk saya juga) sering memanfaatkan kata maaf ini. Dengan mudah melontarkan maaf tanpa memaknainya, dan biasanya permintaan maaf seperti ini tidak akan membuat peminta maaf jera dengan kesalahan yang dia buat, bahkan bisa jadi tidak ada usaha untuk memperbaikinya. Kalau berbuat salah lagi, ya gampang minta maaf lagi saja (pengalaman), hehehe. Terlebih lagi budaya “pemakluman” di negara kita yang sangat tinggi sehingga orang yang dimintai maaf pun akan memaafkannya tanpa ada konsekuensi apa pun. Akibatnya, kesalahan pun akan terus berulang dan bisa menjadi kebiasaan buruk jika tidak ada yang mengingatkan. Banyak sekali contohnya, yang paling mencolok adalah masalah waktu. Keterlambatan masih menjadi hal yang sangat dimaklumi dan dengan mudah dilupakan dengan sebuah kata “maaf” tanpa disertai alasan yang benar-benar memberatkan, yah alasannya hanya yang ecek-ecek istilahnya, kesiangan, lupa, atau bahkan tanpa memberikan alasan. Jujur, saya sendiri tidak luput dari penggunaan kata maaf untuk hal-hal tersebut, apalagi saya tipe orang yang pelupa, terkadang kesalahan selalu terulang karena alasan lupa.

Ya intinya sih masalah tidak terletak pada proses saling memaafkannya, namun pada individu. Sebagai peminta maaf seharusnya kita juga tahu seperti apa konsekuensi dari permintaan maaf, sedangkan sebagai yang memaafkan, kita juga perlu menegur ketika pembuat kesalahan selalu melakukan hal berulang tanpa alasan yang dapat dipertanggungjawabkan. Intinya, kedua belah pihak perlu berperan agar proses saling memaafkan berjalan efektif. Saya terkadang merasa sebal jika ada orang yang terlalu mudah mengucap maaf tanpa ada perbaikan. Tetapi mungkin beda kasus kalau meminta maaf untuk hal-hal yang di luar kendali, seperti kesalahan yang tidak disengaja ataupun kejadian yang mendadak. Tapi bukan berarti semua kesalahan bisa disamakan dengan hal yang di luar kendali kita. Ya tau lah maksudnya kesalahan yang seperti apa (susah jelasin) :p

Kita memang dituntut untuk berpikiran positif terhadap orang lain, tanpa prasangka buruk. Namun, jika suatu hal jelek sudah menjadi kebiasaan, masihkah kita harus berbaik sangka tanpa menegur? Apakah itu makna dari kata maaf, untuk memaklumi kesalahan secara berulang? Sepertinya tidak ya. Tetapi faktanya saat ini bobot kata-kata permintaan maaf sudah terdegradasi, ketika maaf hanya menjadi sebuah kata tanpa makna. Dan sepertinya saya sendiri perlu berkaca juga! 😀

“An effective apology is more than just a quick ‘I’m sorry’” – John Kador

komik-muslimah-128-maaf

1)  http://doktersehat.com/memaafkan-bisa-menyehatkan/

2)  http://health.detik.com/read/2012/08/19/075510/1994857/766/ini-alasan-kenapa-memaafkan-penting-bagi-kesehatan

3)  http://health.kompas.com/read/2011/09/02/08425331/Tambah.Sehat.Berkat.Memaafkan

4)  http://abdaz.wordpress.com/2010/10/18/permintaan-maaf-yang-efektif/

Source gambar :

http://peperonity.com/go/media/21141632!3

http://komikmuslimah.blogspot.com/

Advertisements

About dikabeast

A complex mind in plain personality
This entry was posted in Sharing. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s