Ada Tukang Nasi Uduk di Puncak Gede

Berawal dari status teman di sebuah sosial media, akhirnya saya join rencana untuk menyambangi Gunung Gede, sebuah gunung di Jawa Barat tepatnya berada di 3 wilayah kabupaten, yaitu Cianjur, Bogor dan Sukabumi1. Namun, kebimbangan terus merundung saya hari itu (3/5) , antara jadi atau tidak untuk berangkat, padahal saya sudah mengajak teman saya yang lain untuk ikut. Kebetulan ada deadline tugas kuliah beberapa hari ke depan, sedangkan saya butuh waktu tidak sedikit untuk merealisasikan keinginan mendaki gunung tersebut, mulai dari waktu pendakian, bermalam serta PP Bandung-Cianjur yang jika diakumulasi menjadi sekitar 2 hari. Oh iya, fyi mulai awal tahun 2013 ini saya resmi menjadi mahasiswa (lagi) dan otomatis pengangguran tanpa penghasilan tetap, setelah sebelumnya 8 bulan bekerja (curhat penting). Pada akhirnya saya memutuskan untuk tetap berangkat dengan agak berat, karena jujur dari pengalaman mendaki sebelumnya, saya ambil kesimpulan mendaki itu melelahkan tapi kok nagih ya! Setelah berpikir panjang dan berbelanja kebutuhan logistik, saya berangkat ke terminal Leuwi Panjang sekitar jam 5 sore dan sudah janjian dengan teman di sana, luar biasa naik angkot di bandung di peak hours pulang kerja, sekitar 1,5 jam saya di perjalanan (Suci-Leuwi Panjang). Sesampai saya di Leuwi Panjang, seorang teman saya sudah menunggu dan masih menunggu 2 orang lagi. Total yang berangkat dari Leuwi Panjang 4 orang, Cileunyi 3 orang, Jakarta 5 orang dan yang menunggu di Cibodas, Cianjur 1 orang karena kebetulan penduduk daerah tersebut, jadi kami yang dari luar kota rehat sejenak di rumahnya sebelum memulai pendakian. Singkat cerita kami berkumpul di Cibodas malam itu dan akan berangkat keesokan harinya.

Kami berangkat dari rumah persinggahan sekitar pukul 8.30 pagi, sedikit ngaret dari rencana awal, hal yang sangat dimaklumi di Indonesia. Kami menyewa angkot untuk mengantar sampai starting point pendakian via Gunung Putri, inipun berubah dari rencana yang awalnya pendakian akan melalui jalur Cibodas. Setelah checking ulang peralatan, kami memulai pendakian dan berkunjung sejenak di pos pendakian Gunung Putri untuk laporan serta pemeriksaan barang terlarang dibawa seperti sabun, pisau dan sebagainya, tapi pemeriksaan di sini nampaknya tidak seketat di jalur Cibodas, karena tidak harus membongkar tas. Jalur Putri ini lumayan curam jika dibandingkan dengan jalur Cibodas namun relatif lebih dekat. Kami tidak membawa banyak air, karena di Alun-alun Suryakencana terdapat sumber air. Perjalanan kami (saya tepatnya) dari starting point hingga alun-alun berdurasi sekitar 8 jam, dari pukul 10 pagi hingga  petang, dengan kecepatan standar saya haha , sedikit-sedikit berhenti dan mirip kura-kura, slowly but sure pastinya! (prett). Di pertengahan perjalanan, tim dibagi menjadi 2. Tim tracker yang (katanya) jalannya ngetrack adalah tim cepat terdepan yang bertugas mentake tempat untuk membangun tenda di alun-alun, dan tentu saja saya bukan bagian dari tim tersebut. Saat perjalanan, banyak bertemu dengan pendaki lain, salah satunya pendaki cilik Ken Ai namanya, 6 tahun. Bapaknya orang Indonesia, Ibunya Jepang, bayangin aja how cute she is! Jadi ceritanya, ada salah satu SMA Negri di Jakarta mengadakan reuni anak pecinta alam seluruh angkatan, salah satunya Papinya Ken Ai ini. Sempat ketemu juga sama banyak Bapak yang bawa anak-anaknya, kebanyakan ocehan mereka seperti ini,

“Lumayan juga ya Dek, fisik udah nggak sekuat dulu!”

Yang paling menyita perhatian saya adalah interaksi dek cantik Ken Ai alias Ai-Chan dan Papinya. Rasanya kok sweet sekali mereka ini. Banyak obrolan yang lucu dan menarik untuk disimak.

Di sela-sela perjalanan, kurang lebih ada obrolan seperti ini,

“Ai mau digendong!”

“Loh, Papi kan bawa tas, kalo di gendong di sini (nunjuk pundak) nanti Ai nyangkut dong di pohon, gimana?” jawab Papinya, logis. Disusul tawa Ai yang pecah mendengar alasan Papinya.

“Atau, Ai mau pegangan tas Papi aja nih (sambil menyodorkan keril yang tertengger di punggung) ” sahut Papinya lagi, dan tawa Ai menjadi semakin keras

Di tengah perjalanan, ketika saya beristirahat bebarengan Ai-Chan yang duduk di pangkuan Papinya,

“Papi berapa jam lagi sih sampenya?” tanya Ai, sedikit kesal mungkin karena nggak sampai-sampai

“Kalo kita jalan terus, sejam lagi sampe, tapi kalo Ai nya berhenti-berhenti ya lama,”

“Ah Papi bohong ah…”

“Loh buat apa Papi bohong, kan bohong itu nggak boleh..”

Papi Ai ini logis sekali memberi penjelasan ke anaknya. Pokoknya mengagumkan dan membuat kami pendaki perempuan melting (ngarep calon bapak yang bisa bersikap gitu juga) hahaha.

Ai-Chan edited

Ai Chan bersama Papinya

Menjelang petang kami sampai di alun-alun dan disambut hujan rintik yang kelamaan menjadi deras, dan kami belum menemukan tenda yang dibangun oleh tim tracker.

Suryakencana menjelang petang kala itu

Suryakencana menjelang petang kala itu

Kata pendaki lain, tim kami itu membangun tenda di alun-alun sebelah timur, lumayan masih jauh. Karena tidak tahu, kami memutuskan untuk menunggu saja. Sambil makan nasi uduk dan mi instan cup. Ya, di situ ada yang jual nasi uduk seharga 8000 rupiah dan mi instan cup seharga 10000 rupiah. Sedikit kecewa dengan kenyataan itu, karena saya sudah membawa banyak persediaan logistik.Tetapi tak bisa dipungkiri memang kami terbantu juga karena pada saat itu kami sangat lapar dan sangat tidak memungkinkan untuk memasak. Setelah hujan sedikit reda, dua orang dari tim tracker tiba menjemput, dan kami melanjutkan perjalanan menuju tempat camp walaupun sempat tertahan beberapa waktu lagi karena hujan kembali deras. Malam itu, kami lewatkan di Alun-alun Suryakencana, akhirnya. Kami tetap senang meskipun bunga edelweis belum banyak yang mekar. Dinginnya cuaca selepas hujan membuat kami susah beranjak, katanya sih pada malam harinya sempat mencapai 2 derajat celcius. Namun beberapa dari kami (termasuk saya) tetap memasak tetapi tidak terlalu laku alhasil dari adanya tukang nasi uduk tadi. Sedihnya. Malam itu diputuskan, esok pagi kami tidak summit attack karena sangat dingin dan agak ribet juga membereskan tenda, karena turunnya kami akan melewati jalur Cibodas.

Minggu pagi, seusai sarapan, merapikan barang bawaan dan tenda, kami berjalan lagi ke puncak. Sekitar 2 jam dengan kecepatan saya. Pada hari itu juga saya baru tahu bahwa, Gunung Gede merupakan gunung berapi dan memiliki kawah pada puncaknya,ckck! Dan benar saja, banyak logistik tersisa, daaaan ada yang berjualan nasi uduk, kopi dan mi instan cup di puncak! krik krik krik.

View puncak Pangrango yang menggoda

View puncak Pangrango yang menggoda

Kawah Gede

Kawah Gede

sampah

Pemandangan puncak pun tak terhindarkan dari sampah manusia

nasi-uduk

Penolong serta penghancur hatiku, tukang nasi uduk di puncak. Primadona!

Saya sarankan bagi yang mau mendaki Gunung Gede, tidak perlu bawa bekal terlalu banyak, hehehe. Kami sampai di pos Cibodas ketika maghrib kemudian singgah lagi ke rumah teman saya di Cibodas. Malam itu juga saya kembali ke Bandung bersama dengan beberapa lainnya yang bertujuan ke Jatinangor, menginap di Jatinangor karena sudah terlalu larut untuk ke Bandung sendirian. Senin pagi menginjakkan kembali menginjakkan kaki di Bandung, Alhamdulillah! Hello Monday! (dengan kaki pegel-pegel)

Special thanks to Teh Iska dan Kang Iman , atas sambutannya di Cibodas 😀

1) http://id.wikipedia.org/wiki/Gunung_Gede

Advertisements

About dikabeast

A complex mind in plain personality
This entry was posted in Sharing and tagged , . Bookmark the permalink.

4 Responses to Ada Tukang Nasi Uduk di Puncak Gede

  1. eh, skrg kuliah ngambil apa to dik?
    *ra nyambung mbek postingan

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s