Durian Bhineka Bawor, Ide Kreatif Pedesaan di Banyumas

2012-12-24 10.57.05

Menjelang akhir tahun lalu saya menyempatkan diri untuk pulang ke Purwokerto, memang beberapa waktu belakangan ini saya selalu berusaha agar minimal satu bulan sekali bisa pulang ke rumah, entah apa alasan kuatnya. Dan kebetulan pada hari itu (23/12), ada acara pernikahan teman yang saya hadiri di Purworejo. Akhir-akhir ini banyak sekali undangan pernikahan, fyuh. Seusai acara, saya bergegas mencari bis tujuan Purwokerto bersama seorang teman saya yang rencananya akan kembali ke Bandung dari stasiun Kroya esok hari, dan saya menjanjikan untuk mengantarnya setelah berhasil membujuk Bapak yang juga akan ikut mengantar. Keesokan paginya, setelah memastikan teman saya naik kereta yang benar, saya, Bapak dan Ibu tidak mau melewatkan kesempatan untuk bermain,mumpung ada saya ,hehe. Terinspirasi dari banyaknya penjual durian di pinggiran jalan, akhirnya kami memilih makan durian sebagai agenda utama bemain kami kali itu, memang durian itu salah satu buah favorit di keluarga kami dan Bapak sangat antusias ingin membawa kami ke petani eh pengebun durian kenalannya di daerah Banyumas tepatnya di Kemranjen, Desa Alasmalang.

Patung Bawor di pintu masuk. Bawor merupakan tokoh pewayangan anak bungsu dari Semar. Sering dikenal juga Bagong. Bawor merupakan lambang khas daerah Banyumas

Patung Bawor di pintu masuk. Bawor merupakan tokoh pewayangan anak bungsu dari Semar. Sering dikenal juga Bagong. Bawor merupakan lambang khas daerah Banyumas

Dan tentu saja replika durian ukuran jumbo

Dan tentu saja replika durian ukuran jumbo

Nama pengebun itu Pak Sarno, kata Bapak, Pak Sarno ini dulunya adalah seorang guru sekolah dasar, dan sekarang pun masih mengajar hanya saja memiliki aktivitas tambahan yaitu mengatur pengelolaan kebun durian miliknya. Dari ide kreatif ini ternyata Pak Sarno juga menjadi pelopor bagi warga-warga desanya yang juga menjadi pembudidaya durian. Pantas saja sepanjang jalan di daerah desa itu bertebaran pohon-pohon durian, bahkan setidaknya setiap rumah memiliki pohon durian.  Kata Bapak, dulunya daerah itu tidak banyak yang membudidayakan durian, namun berkat Pak Sarno yang memulai perkebunan durian, sekarang jadi banyak pembudidaya durian di sana. Pak Sarno tidak pelit membagi ilmu tentang pengembangan tanaman durian yang baik dan menggunakan teknik yang dia temukan yaitu teknik sarakapita kepada warga desanya maupun kepada pelanggannya. Bahkan Pak Sarno sendiri yang memulai dari awal penyuluhan tentang pengembangan teknik itu kepada warga daerah itu. Terlepas dari semuanya, banyak sekali nilai-nilai positif dari Pak Sarno mulai dari kreatifitasnya mengembangkan durian yang mungkin awalnya dia belum paham, dengan latar belakangnya yang seorang guru. Dari keberaniannya, kedermawanannya terhadap ilmu, tidak serakah dan mau berbagi. Ternyata ada kisah-kisah yang inspiratif yang datangnya dari desa. Pak Sarno tergolong orang yang bermanfaat untuk sekitarnya, dan membuat saya bertanya, apakah diri saya sudah bermanfaat untuk orang lain? Rasanya ingin sembunyi di bawah kolong meja saja.

Bibit durian

Bibit durian

Salah satu pohon yang sedang berbuah

Salah satu pohon yang sedang berbuah

Omset Pak Sarno ketika musim panen, wih jangan ditanya, puluhan atau mungkin bisa mencapai ratusan juta. Memang, tidak sebesar usaha-usaha kreatif yang ada di kota-kota besar, tapi untuk seukuran desa kecil seperti itu sudah tergolong luar biasa, belum terhitung aset-aset yang dimiliki oleh Pak Sarno. Kata Bapak, dulu awalnya Pak Sarno tidak langsung se sukses sekarang, namun itulah kekuatan dari kerja keras dan pantang menyerah, meskipun gagal dia terus berusaha dan belajar dari kegagalan.  Akhirnya setelah puas berkeliling melihat kebun Pak Sarno, kami bertemu langsung dengannya yang kebetulan baru datang. Kami dipersilahkan memilih durian yang akan dibeli. Saya agak lupa waktu itu membeli durian jenis apa saja, yang jelas ada dua jenis, yang dagingnya sangat kuning dan yang satunya kuning biasa dan dagingnya agak keras. Sekedar informasi, di tepat Pak Sarno ini menanam berbagai bibit unggul durian lokal dan banyak juga yang merupakan hasil eksperimen persilangan yang dilakukan oleh Pak Sarno beserta paguyuban pengembang durian di Desa Alas Malang 1) 2).

Durian pertama. Dagingnya lumer di mulut

Durian pertama. Dagingnya lumer di mulut

Lembut di tangan (detergen kalee)

Lembut di tangan (detergen kalee)

Durian kedua. Kalau tidak salah Durian Petruk. Dagingnya agak lebih keras

Durian kedua. Kalau tidak salah Durian Petruk. Dagingnya agak lebih keras

Oh iya, terkadang jika ada hasil panen yang unik, harga jualnya bisa melambung hingga jutaan rupiah hanya untuk satu buah.  Contohnya seperti durian jumbo yang satu ini,

duren jumbo

Durian jumbo nampaknya belum terlalu matang

“….Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.”

(HR. Thabrani dan Daruquthni)

1)  Sumber : http://sutarko.blogspot.com/2011/09/sarno-dan-pohon-durian-bhineka-bawor.html

2) Sumber : http://www.suaramerdeka.com/harian/0408/07/ban03.htm

Advertisements

About dikabeast

A complex mind in plain personality
This entry was posted in Article and tagged , , , . Bookmark the permalink.

5 Responses to Durian Bhineka Bawor, Ide Kreatif Pedesaan di Banyumas

  1. nice post!
    baru tau di kemranjen ada beginian, padahal mbah buyutku dari kemranjen, tp ga pernah tau info ini.
    Btw, durene mingini, haha

    Like

  2. deeyansuch says:

    iiiih keren bangeeet ;’))

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s