Tragedi, Lumpur dan Matahari

dieng Tragedi. Mungkin tidak sehoror itu juga sebutannya tapi sungguh rasa berkecamuk cukup membuat saya dirundung kengerian saat itu, hehe.  Tragedi tidak berdarah ini terjadi mungkin sekitar dua bulan yang lalu, tepatnya hari kedua ketika saya berkunjung ke Dataran Tinggi Dieng (28/10). Hari itu masih gelap, adzan pun baru berkumandang beberapa menit sebelumnya. Setelah melaksanakan sholat subuh, kami bersiap berburu matahari terbit di puncak Bukit Sikunir. Hari sebelumnya kami sudah memesan empat sepeda motor sewaan beserta satu orang penunjuk jalan, karena kami benar-benar buta arah. Setelah berdiskusi, saya kebagian yang mengendarai motor berboncengan dengan salah satu teman perjalanan saya. Tidak dapat saya pungkiri, pagi itu dinginnya sangat super, dan mungkin ini satu kesalahan, baru menyadari saya tidak membawa sarung tangan di saat semua orang yang biasa berjualan masih terlelap. Nekat, saya berangkat tanpa sarung tangan. Perjalanan sebenarnya tidak terlalu jauh jika ditempuh menggunakan kendaraan, namun track yang dilewati memang agak sedikit berbahaya karena  sore hingga malam sebelumnya, Dieng diguyur hujan. Saat perjalanan saya menggigil karena menahan hawa dingin dan tangan saya pun sedikit kaku karena tanpa penutup. “ Kak, beneran gak papa gak pake sarung tangan?” orang di belakang saya bertanya

“ Iya, ngga apa apa insya Allah, lagian aku ngga bawa juga lupa..”

Apa mau dikata saya tidak membawa, dan tidak mungkin rasanya saya meminjam di samping orang lain juga membutuhkannya.

Setengah perjalanan berlalu sangat lancar, walaupun kami dengan kecepatan yang lambat, kami berhati-hati karena jalanan yang kami lalui banyak yang berselimutkan lumpur dan juga tidak sedikit lubang-lubang bertebaran. Jalur makin ekstrem kami lalui, jalanannya sangat licin membuat teman saya beberapa kali hampir selip, saya sejauh itu aman-aman saja hingga satu saat di sebuah tikungan, motor saya tidak dapat menghindari licinnya jalan yang saya lalui. Motor meluncur tak terkendali dan yang saya ingat saya pun tidak sempat menggenggam rem karena tangan saya kaku susah untuk digerakkan. Dan, brakk! Kecelakaan pun tidak dapat dihindari. Kecelakaan tunggal, tragedi kecil. Saya, motor dan teman yang saya bonceng jatuh ke sisi kiri, motor dengan aspal saling bergesek. Begitu juga saya, jaket, pakaian dan tas yang saya bawa bersentuhan dengan aspal yang bebalut lumpur. Teman saya? Entah lah saat itu saya tidak sempat terpikir keadaannya seperti apa karena jujur saya kaget tiba-tiba terpeleset seperti itu. Jatuhnya motor saya berakibat motor di belakang saya berhenti mendadak juga dan ikut terpeleset walaupun tidak separah saya. Motor! Ya itu yang terlintas di otak saya saat itu. Motornya lecet kah? Rusak? Ah. Suara motornya cukup keras bergesek tidak hanya dengan aspal namun juga batu dan lumpur. Saya berharap hanya kotor karena lumpur, tetapi suara benturan itu menepis pemikiran positif  saya kalau “motornya tidak apa-apa”. Tidak berhenti lama setelah bertukar posisi, orang di belakang saya pindah dibonceng oleh motor lain, kami tetap melanjutkan perjalanan untuk berburu matahari terbit. Selama melanjutkan perjalanan itu hati saya gelisah, berpikir motor, motor dan motor. Kondisi yang membonceng saya baik-baik saja, namun sedikit shock, begitu juga dengan saya yang hanya berlumur lumpur, walaupun ada luka sedikit sepertinya untung saja saya sempat memakai helm sebelum berangkat, tetapi motor? Saya tidak bisa memastikan karena kondisi gelap sehingga tidak bisa terlihat jelas keadaaannya. Sesampai di lapangan dekat telaga cebong, kami menitipkan motor dan bergegas naik menuju puncak bukit.

“Aduhhh gimana ya motornya paaak..” tanya saya yang masih khawatir kepada bapak penunjuk jalan

“Udah ngga papa mbak, naik aja dulu, mbake gak papa kan tapi? “ jawabnya

“ Saya ngga papa pak, tapi motornya….stangnya ngga bengkok sih tapi kayaknya lecet…trus..”

“Udah ngga papa mbak tak anter dulu ini kalian, naik aja dulu motor nanti aja, mataharinya udah mau kelihatan”.

Kami akhirnya mendaki bukit dan sampai di puncak, dengan sisa tenaga yang tersisa, terutama saya yang sempat hampir menyerah karena jalannya tidak ada yang landai. Ditambah perasaan saya yang campur aduk. Motor. Hish. Sesaat matahari menampakkan dirinya, saya lupa sejenak tentang motor hahaha. Subhanallah matahari itu memang selalu indah meskipun sering dilihat tidak pernah mengurangi keindahannya, bahkan semakin membuat saya jatuh cinta.

IMG_9738

Matahari mengintip di sebelah G. Sindoro

Namun saat itu awan sedang tinggi sehingga sedikit menutupi cahaya jingga yang terpancar. Sayang sekali ya. Maklum sedang musim hujan. Matahari sudah mulai menyingsing tinggi, seketika itu saya dan yang lainnya turun menuju tempat penitipan motor. Hari mulai terang, dan kembali saya teringat, motor. Bergegas saya menuju tempat penitipan motor. Daaaaaan, motor yang saya tunggangi penuh dengan lumpur, benar saja setelah lumpur diusap, lecet amat parah. Deg.

“ Aduh paak, gimana donk Pak, ini motor sama saya, mahalan motornya..” seloroh saya asal

“ Ya nggak lah mbak, ya mahal mbaknya tho. Udah ndak papa resiko kalo nyewain motor. Ini motor yang punya penginapan, baru datang belum ada sebulan.”

What? Itu motor baru ternyata. Hati saya makin gundah tidak tenang, boleh dibilang saya yang pertama kali menggores body nya. Tetapi akhirnya sebelum kembali ke Purwokerto, saya sudah berkompromi dengan penjaga penginapan. Saya sudah menyiapkan mental dan juga uang jika memang harus mengganti. Tetapi, Alhamdulillah …

“Ndak papa itu mbak lecet dikit, mbaknya gak papa? Perlu dibawa ke dokter apa gimana mbak?”

“Saya nggak papa Bu tapi motornya papa. Beneran bu ngga masalah?” masih tidak percaya

Dan dengan ucapan terimakasih yang sangat besar saya meninggalkan Dieng dalam keadaan hati sangat lega. See you again Dieng! 😀

28014_552990304715440_2093232691_n

Barang bukti tragedi mengejar sunrise

575179_552990221382115_1088050721_n

Motor baru belum ada sebulan datang 😦

Advertisements

About dikabeast

A complex mind in plain personality
This entry was posted in Sharing and tagged , . Bookmark the permalink.

One Response to Tragedi, Lumpur dan Matahari

  1. wantisofiana says:

    Dika,,, ati2 neng…
    tapi enak banget jalan2…
    pengen… 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s