Rain at Telaga Warna, Another Learning

“ Ya, Allah semoga hujan ini bermanfaat!”

Setelah melalui perjalanan dari Purwokerto – Wonosobo selama dua jam lebih, tepatnya sehari setelah Idul Adha (27/10), saya bersama seorang sahabat karib (sangat karib) tiba di Wonosobo sekitar jam 10.30 pagi menjelang siang, tempat pemberhentian bis rute Wonosobo-Dieng. Berdiri empat orang lain teman perjalanan kami lainnya, tiga di antaranya belum saya kenal, dan nampaknya mereka sudah menunggu hampir satu jam. Mereka berangkat masing-masing ada yang dari Purbalingga dan Banjarnegara, fyi tiga diantaranya masih sekolah, tingkat akhir SMA. Kami melanjutkan perjalanan menuju Dieng dengan membayar bis delapan ribu per orang. Perjalanan sekitar satu jam dari Wonosobo ke Dieng, setiba di Dieng kami langsung mencari tempat untuk tidur malam harinya, inginnya kemping di Sikunir, namun tidak sempat mempersiapkan alat-alatnya, karena maklum saya masih tukang pinjam hehe. Setelah melihat-lihat kami memutuskan untuk tetap pada rencana awal, yaitu bermalam di homestay “ Bu Djono”. Kami menyewa dua kamar (Rp 75.000,00/kamar).

Tampak depan, Bu Djono homestay

Usai sholat dhuhur dijamak dengan ashar, kami mulai melangkahkan kaki kami menuju Telaga Warna. Letaknya tidak jauh dari homestay, lagipula Telaga Warna termasuk kompleks Dieng di Zona I, yang memang tujuan kami di hari pertama. Entah kenapa begitu memasuki telaga itu, saya merasa berbeda dari yang biasa saya lihat di internet. Banyak yang bilang, Telaga Warna saat ini sudah tidak seperti yang dahulu. Kenapa selalu seperti itu ya, alam yang sudah sering dikunjungi manusia menjadi semakin hilang keindahannya, kealamiannya, banyak sampah, kalau yang sudah terkelola masih lebih baik karena pasti ada tukang bersih-bersihnya. Kalau yang tidak? Heran apa susahnya membawa sampah barang sedikit saja! (emosi). Masih memberikan pancaran warna hijaunya ,indah memang namun tidak seindah yang saya lihat dalam gambar, dalam cerita-cerita orang. Kalau kata pak supir bis yang kami tumpangi dalam perjalanan ke Dieng, menurut mitos ada yang sudah mengambil jimat atau semacam hal mistis yang ada di dalam kolam.

Telaga Warna, after the rain gone

Aneh ya tapi mungkin seperti itulah kepercayaan warga sekitar. Cuaca saat itu sedikit mendung dan benar saja ketika sedang memutari telaga tiba-tiba hujan turun, awalnya hanya rintik-rintik, tapi tidak lama langsung menjadi hujan deras. Kami beserta pengunjung yang lain berhamburan mencari tempat berteduh. Kami memilih serambi mushola sebagai tempat untuk menunggu hingga hujan reda. Tepat di sebelah posisi saya ada seorang ayah yang sedang memangku anaknya, bersebelahan dengan ibu dari anak itu yang sedang hamil besar. Awalnya saya tidak terlalu menghiraukan keberadaan mereka, tapi lama kelamaan saya terpanggil dengan ocehan-ocehan si anak yang sangat menggemaskan dan cerdas. Contoh ocehannya “Ayah ini bau apa, siapa yang kentut kok bau sekali..”  kebetulan memang bau belerang saat itu sedang sangat menyengat. Ayahnya tidak kehabisan akal dan menjawab “Ini gunungnya yang kentut.”. Lucu sekali, terlihatnya seperti berbohong ya? Tapi kan memang belerang asalnya dari gunung, dan belerang meengeluarkan asap yang bau, tidak salah juga kalau dibilang gunungnya kentut. Setelah lama saya perhatikan, ternyata di belakang saya juga ada anak kecil lainnya, yang merupakan kakak dari yang di pangku si ayah tadi. Sembari menunggu hujan reda, mereka bercanda, berbincang serta kedua kakak beradik itu sempat berdoa dengan menengadahkan kedua tangannya.

“ Ya, Allah semoga hujan ini bermanfaat!”

Bebarengan. Kompak. Dan aku terdiam. Subhanallah. Anak-anak kecil ini saja tahu bagaimana menyikapi hujan. Saya malu. Tidak sedikit orang dewasa yang justru sering mengeluhkan, merutuki dan menyesalkan turunnya hujan.

“ Yah hujan..”

“Aduh kenapa hujan…cucian gak kering..”

Dan lain-lain, bahkan ada juga yang mengumpat kata-kata kasar ketika mendapati hujan. Harusnya malu sama anak-anak. Padahal hujan itu lambang keberkahan dari Allah. Astaghfirullah…

  اَللَّهُمَّ صَيِّبًا  نَافِعًا

Allahumma shayyiban naafi’aan
“Ya Allah! Semoga hujan
ini bermanfaat (untuk manusia, tanaman dan binatang).” (HR. Al-Bukhari)

Hujan menjelang reda, keluarga kecil tadi bersiap-siap untuk beranjak dari serambi mushola. Dan saya sempat menanyakan nama kedua anak menggemaskan itu. Mereka hanya berselisih satu tahun. Si kakak bernama Aila umur 5 tahun sedangkan si adik (yang bertanya kentut) bernama Lovely, Lovely Audrey lengkapnya, umur 4 tahun. Saya tersenyum mendengar namanya “lovely” kalau dalam bahasa inggris, lovely diartikan cantik, indah, elok. Aih orang tuanya kreatif.

Ki-ka : Lovely, Aila. Lovely malu-malu kalau di foto

Aila Narsis

Susahnya dapat gambar Lovely

Terimakasih atas pelajarannya Aila dan Lovely! [dikabeast]

Advertisements

About dikabeast

A complex mind in plain personality
This entry was posted in Sharing and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s