Selalu Ada Kisah di Setiap Perjalanan

Alam punya cara sendiri untuk beribadah pada Sang Pencipta. Paling tidak kita berdzikir juga. Alam itu mau diinjak dan diapa-apain cuma bisa diam. Kalau mau menyusuri alam kuncinya menyatulah sama alam, cintai .

Kurang lebih begitulah petikan kata dari seorang Bapak setengah baya yang dapat saya simpulkan. Ya, bapak yang sungguh inspiratif. Saya secara tidak sengaja atau memang sudah digariskan oleh Allah bertemu dengan bapak dua anak itu di sebuah perjalanan, di dalam kereta, dari Bandung menuju Malang, gerbong ekonomi. Bapak yang hingga saat ini saya tidak tahu namanya, sudah tidak muda lagi, namun jiwanya masih sangat bersemangat dan segar namun berbobot. Dia adalah seorang aktivis kampus ketika masih kuliah dulu dan anggota pecinta alam. Hampir semua gunung di Pulau Jawa dan Lombok telah dikunjunginya, serta berbagai tempat keren di Indonesia. Mulai dari gunung Rinjani, Slamet, Merapi, Ciremay, Gede, Semeru hingga tempat sekelas Raja Ampat Papua pernah disambanginya. Wow. Padahal beliau aktif dalam kegiatan seperti itu saat tahun 1980-an, saya semakin kagum. Bagaimana tidak? Pada jaman itu mendaki itu tidak semudah sekarang, travelling juga tidak sesederhana sekarang. “Ibarat sebuah siklus. Mendaki jaman sekarang itu tinggal menikmati hasil, kalau jaman dulu ya proses. Dari yang sama sekali belum tersentuh harus benar-benar mendaki vertikal dan membuka jalur.” Ujarnya

“Makanya pendakian jaman sekarang itu mudah kok. Tidak seberat jaman dulu.” imbuhnya lagi

Dahulu pun pesawat rutenya tidak sebanyak sekarang. Sehingga kalau mau kemana mana ya agak susah, katanya. Sepanjang perjalanan saya hanya bisa mendengarkan cerita seru perjalanan serta pengalamannya survive di hutan belantara.

“ Naik gunung itu juga butuh yang namanya teori, Dek. Teori mengenal kriteria tumbuhan di ketinggian berapa, mengenal tumbuhan yang bisa dimakan, teori bertahan hidup dalam keadaan darurat sampai histori, mitos serta filosofi gunung itu juga sebaiknya kita paham.” paparnya.

Selain menceritakan pengalaman perjalanan, dia juga berbagi pengalaman hidup. Salah satunya menceritakan bagaimana cara dia mendidik anak. Kedua anak Bapak itu perempuan, salah satunya sudah bekerja di sebuah Bank, mungkin seumuran saya, dan yang paling kecil masih duduk di bangku SMA.

“Jangan suruh anak untuk belajar. Kata belajar itu berat sekali bebannya.”

Sedikit tersentak dengan perkataan Bapak itu. Jujur walaupun orang tua saya tidak pernah menuntut saya untuk mendapatkan nilai bagus, mereka tetap menyuruh saya untuk belajar.

“Iya, beneran Dek. Belajar itu untuk anak-anak bebannya berat sekali. Saya selalu berusaha tidak menyuruh mereka belajar tapi menanyakan, tadi di sekolah membahas apa? Buku sekolahnya sudah selesai dibaca? Isinya seperti apa? Ya kurang lebih begitu.” sambungnya

Dan memang terbukti dengan prestasi anaknya yang pertama, walaupun sekrang terjerumus keluar jurusanya (perbankan), pada saat kuliah anak Bapak itu yang kebetulan mengambil jurusan pertanian di salah satu perguruan tinggi negri bergengsi di Malang (if you know where I mean) memiliki prestasi yang cukup gemilang, di bidangnya tentu saja. Bahkan sempat memperoleh kesempatan untuk melanjutkan kuliah di bidang itu dengan skema beasiswa dari pemerintah Australia, hanya saja istri Bapak itu tidak mengizinkan anaknya untuk pergi ke luar Indonesia. Ah sayang sekali. Oh, ya tahu kenapa alasan anaknya mengambil jurusan pertanian? Karena memang suka, dan dari kecil Bapak itu selalu mengenalkan tumbuh-tumbuhan kepada anaknya itu, mulai dari jenis, kegunaan, dan lain-lain. Bahkan kalau sedang berjalan-jalan dan menemukan tumbuhan yang baru dikenal anaknya akan dijelaskan oleh si Bapak, itu yang membuat anaknya jatuh cinta dengan bidang pertanian. Satu lagi, anaknya pun tidak jauh beda dengan Bapaknya, suka ke alam, terutama naik gunung. Sungguh teman berbincang yang menginspirasi! [dikabeast]

“Apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi senantiasa bertasbih kepada Allah; milikNya semua kerajaan dan bagiNya (pula) segala puji; Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Q.S At-Tagaabun : 1

source gambar : disini

Advertisements

About dikabeast

A complex mind in plain personality
This entry was posted in Sharing and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s