Dad’s Gift

Image

***

Secangkir kopi hangat menemaniku malam ini, mandi terlalu malam ternyata cukup membuatku merasa kedinginan. Hampir jam sebelas malam sekarang, aku masih harus mencumbu barisan kode program yang belum sempat kuselesaikan tadi di kantor. Kata orang kopi itu teman yang paling cocok untuk begadang, tapi untukku seakan tak ada pengaruh. Tak ada efek. Oh iya, bicara soal pengaruh aku jadi teringat sesuatu. Kalau ada orang yang bertanya “Siapakah orang yang sangat berpengaruh untuk anda?” padaku, satu suku kata yang terucap dariku “Ayah-ku”. Pria paruh baya yang pada tahun ini genap berusia lima puluh satu adalah orang yang kuakui sangat berpengaruh membentuk pribadiku seperti sekarang. Bapak, begitu aku biasa memanggilnya, adalah orang pertama yang mengenalkan aku pada seagala hal.Tanpa mengesampingkan Ibuku, Bapak memang sosok yang selalu aku kagumi sedari aku kecil. Tubuhnya yang besar dengan wajah yang dipenuhi jenggot memang membuatnya terlihat sedikit angker, teman-temanku pun yang belum terlalu mengenalnya pasti akan merasa segan. Namun entah kenapa sedari dulu Bapak selalu menjadi trendsetterku. Mulai dari membuat tanda tangan, sewaktu masih di sekolah dasar ketika aku disuruh membuat tanda tangan untuk ijazah, yang menjadi inspirasiku adalah tanda tangan Bapak. Hobi mengoleksi perangko sewaktu kecil dahulu pun diturunkan dari Bapak, banyak sekali warisan perangko darinya yang entah sekarang dimana. Kesukaanku mengoleksi hal-hal yang tidak penting pun agaknya seperti dia. Dan ternyata Bapak juga suka menulis sewaktu muda dulu, suka menulis buku harian. Wah benar-benar role model ku! Bedanya aku perempuan dia laki-laki. Mungkin jika aku laki-laki aku akan sangat mirip dengannya walaupun aku juga memiliki beberapa sifat Ibu.

Aku tidak tahu akan sampai kapan bisa merasakan kebersamaan dengannya, sudah hampir lima tahun aku tidak melewatkan keseharianku bersamanya dan keluarga, yah karena jarak. Dua hari lagi adalah hari ulang tahunnya. Bapak sudah tidak muda lagi. Sudah tidak sebugar dahulu. Sudah tidak sekuat dahulu. Sudah tidak setampan dahulu. Sudah sering lupa dan lelah. Sudah punya beberapa uban. Tetapi sosoknya tidak akan pernah berubah. Bahkan semangatnya juga masih sama.  Semangat itu selalu ditularkannya kepada kami, keempat anaknya. Di sela kesibukannya,  tak pernah melewatkan berbincang dengan anaknya. Walaupun jarang sekali dia mau mengajari kami untuk mengerjakan tugas sekolah, mungkin pekerjaannya juga banyak. Pekerjaan yang sehari-hari dia kerjakan untuk menafkahi aku, Ibu dan adik-adikku. Pekerjaan yang bisa mengantarku hingga aku bisa lulus dan bergelar ,ST di belakang namaku. Memang Bapak tidak pernah merasakan bangku kuliah, namun untuk urusan pendidikan anak dia selalu mengutamakan, terutama pendidikan agama. Apapun akan dia usahakan untuk pendidikan anak-anaknya. Dia selalu ingin anaknya lebih baik darinya. Ahh, tapi aku ragu apa aku bisa lebih baik darinya dalam segala hal. Sekarang ini aku masih merasa kalau aku terlalu manja. Bapak waktu seumurku dulu bahkan sudah merantau kemana saja untuk mengejar rezeki, sedangkan aku baru lulus kuliah beberapa bulan yang lalu, terlambat satu semester. Sekarang pun ketika sudah lulus belum bisa sepertinya, masih jadi beban keluarga. Aku harus bisa menjadi yang lebih dari Bapak suatu hari nanti.

Sungguh, satu anugrah terindah yang diberikan Allah padaku selain cahaya Islam memiliki orang tua seperti Bapak dan Ibu. Mereka jugalah perantara Allah yang melukiskan Islam dalam kertas putihku. Aku bersyukur, sangat bersyukur. Di luar sana masih banyak orang-orang yang tidak bisa merasakan nikmatnya memiliki seorang ayah seperti Bapak, ayah juara di dunia bagiku.

“ Ya Allah, berkahilah umur Bapak, jagalah kesehatannya, izinkan dirinya agar selalu istiqomah di jalanMu, kuatkanlah dirinya untuk memikul beban kehidupan, lapangkanlah dadanya untuk segala urusan, berikanlah keikhlasan di setiap langkahnya, mudahkanlah rezekinya dan jagalah dirinya dari segala penyakit hati.

Ya Allah, jika aku boleh memohon, berikanlah kesempatan padaku untuk berbakti kepada orang tuaku. Untuk mengabdikan diriku pada mereka dan jangan sampai aku menjadi anak lupa akan asal usulnya.”

24 Juni 2012, selamat ulang tahun Bapak! Maaf belum bisa memberikan hadiah terhebat saat ini …

Ah sudah malam menuju pagi, baris programnya belum jadi aku sentuh. Ya sampai jumpa besok pagi pekerjaan! Selamat tinggal Portugal vs Ceko , besok harus berangkat pagi, tidak sempat menonton. Selamat dini hari dunia.

***

Sudut kamar

21 Juni 2012

Advertisements

About dikabeast

A complex mind in plain personality
This entry was posted in Sharing. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s