Honey : Perkenalan dan Kejadian Hot Pants

Honey. Gadis kecil yang tidak terasa sudah kini memasuki usia remaja akhir. Oke, sebenarnya namanya Hanni namun di akte kelahirannya tertulis H-O-N-E-Y, entah memang petugas penulis akte kelahirannya ketika itu tepatnya delapan belas tahun yang lalu, sengaja atau sedang belajar berbahasa Inggris atau bahkan yang yang menulis aktenya memang seorang bule. Yang jelas orangtuanya tidak pernah mempermasalahkan hal itu malahan orangtuanya berpikir nama itu lebih keren. Begitu pula dengan Honey, dia santai saja dengan nama itu, karena dalam bahasa Indonesia honey berarti madu, madu itu manis, kekayaan alam yang memiliki manfaat sangat besar baik untuk manusia ataupun makhluk hidup yang lain. Oleh karena itu, dia sangat bercita-cita bisa seperti madu yang dapat memberikan manfaat untuk sekitarnya. Cita-cita yang cukup mulia dan bias juga dikatakan naif, maklum masih remaja. Dari segi penampilan fisik, siapa yang mengira Honey itu masih remaja berumur belasan. Tinggi badannya di atas rata-rata orang dewasa dan wajahnya pun terlihat cukup dewasa walaupun mental dan pemikirannya tetap saja remaja. Honey berasal dari keluarga yang mampu tidak mampu. Dibilang mampu ya tidak mampu, dibilang mampu ya sebenarnya kurang mampu. Mungkin itu yang membuat Honey memutuskan untuk bekerja di usianya yang masih tergolong belia. Bekerja apa saja, yang penting halal dan menghasilkan uang. Dan yang terpenting adalah selalu jujur dalam pekerjaan apapun, karena orang jujur adalah berlian di lautan emas-emas yang imitasi. Meskipun bekerja dia tetap menyisihkan sebagian waktunya untuk belajar. Karena itu Honey termasuk remaja yang cerdas! Siang itu tidak terduga, di tengah cuaca yang terik tiba-tiba awan dalam sekejap berubah menjadi mendung. Itulah alam, bukan kita yang mengendalikan, Honey bergumam. Dia masih menetap di sebuah kafe kecil, tempat ia mencari uang di hari itu. Dari setengah hari ia bekerja di kafe tersebut sebagai pencuci piring, semua piring yang dicucinya aman! Tidak ada yang pecah satu pun. Ya, walaupun cerdas namun Honey terkenal sedikit ceroboh apalagi berkaitan dengan barang-barang pecah belah. Setelah memastikan semua pekerjaan selesai selama setengah, Honey memutuskan untuk pulang ke rumah. Honey memilih tidak bekerja full-time tiap harinya. Terkadang kalau dia tidak mendapatkan pekerjaan ya tidak bekerja. Honey berjalan menuju rumahnya beralaskan sepatu kanvas yang terlihat berlubang sana sini, menerjang hembusan angin yang nampaknya sudah sedikit berair membawa tetesan gerimis dari langit. Bisa ditebak, belum sampai ke rumahnya hujan mengguyur dan Honey pun bergegas mencari tempat untuk berteduh. Honey tidak sendiri, banyak sekali orang-orang yang bernasib sama dengannya. Berteduh karena mendadak hujan dan tidak membawa payung. Terutama para laki-laki, kebetulan hari itu Jum’at jadi banyak sekali laki-laki yang kehujanan sepulang shalat Jum’at. Di sebrang Honey terlihat dua orang laki-laki muda yang sedang menanti hujan reda. Yang satu memakai baju koko rapih beserta sarung, dan yang satunya lagi memakai celana pendek dan kaos oblong lusuh seperti satu minggu tidak dicuci. Mereka berdiri agak berjauhan, di depan sebuah rental komputer. Dari penampilan, Honey memperkirakan yang menggunakan baju koko pasti sepulang dari shalat Jumat, sedangkan yang satunya, entahlah, mungkin sedang berhalangan untuk shalat Jum’at atau memang laki-laki dengan keyakinan selain Islam. Sepuluh menit berlalu, hujan tak kunjung reda.

Honey mulai bosan menunggu dan bengong di pinggiran jalan, tiba-tiba ada dua perempuan muda melintas di jalan itu. Keduanya membawa payung masing-masing, yang satu berpakain biasa saja dan yang satu, wow memakai celana yang sangat pendek yang lebih dikenal hotpants yang secara kasar kalau diartikan ke bahasa Indonesia menjadi “celana panas” (mungkin maksudnya membuat yang melihat menjadi hot, kalau untuk pemakai pastilah bukan jadi hot tapi jadi dingin dan semilir) tingkat kependekannya pun bervariasi dari mulai yang di atas lutut, sampai yang terlihat seperti celana dalam. Honey seketika memperhatikan dua orang laki-laki yang berada di sebrangnya tadi, mata kedua orang itu tertuju mengikuti perempuan yang memakai celana panas dari ujung awal muncul hingga sudah tak terlihat lagi, jadi kepalanya bergerak mengikuti pergerakan pemakai celana panas. Objek yang dilihat oleh mereka ya bagian kaki yang terbuka. Honey pun senyum-senyum sendiri. Tidak ada beda antara pemakai baju koko dan kaos oblong, keduanya sama-sama laki-laki yang akan secara reflek tertarik dengan bagian-bagian tubuh perempuan, apalagi yang dapat membuat hot. Itu sebuah kewajaran, karena secara ilmiah laki-laki itu visual bahkan tanpa perlu melihatnya mereka sudah membayangkan, apalagi kalau melihat. Berdasarkan peneletian, otak laki-laki dapat beberapa kali terbersit pemikiran tentang seks dalam sehari sedangkan otak perempuan,hmm mungkin sehari saja belum tentu terpikir (baca di sini). Honey terus tersenyum senyum sendiri sampai mungkin terlihat seperti kurang waras. “Kalau menggunakan celana panasnya cukup di rumah, mungkin tidak masalah” gumam Honey. Yang membuat Honey geli adalah reflek kedua laki-laki yang ada di depannya itu, matanya tidak berpindah sama sekali sampai si pengguna celana panas itu tidak tampak lagi. Ya…sekarang sudah semakin ngetren pakaian-pakaian yang dapat membuat orang lain “panas” digunakan di depan umum. Semakin membuat orang panas semakin keren, lama-lama telanjang di depan umum pun dibilang keren dan bernilai seni, trus apa bedanya sama orang gila yang suka jalan-jalan telanjang dan cari-cari makanan di tempat sampah? Lucu sekali. Semakin banyak bagian tubuh yang dipertontonkan semakin dianggap modis, apa iya modis itu harus membuat orang lain panas dan membuat badan masuk angin? Honey teringat beberapa waktu yang lalu ada sebuah berita, aksi unjuk rasa oleh para pengguna rok mini? What?! Jaman sekarang bukan hanya mahasiswa, buruh ataupun organisasi masyarakat yang bisa berunjuk rasa. Siapapun bisa! Termasuk itu perkumpulan para pengguna rok mini, ada-ada saja! Mereka menuntut agar diberi kebebasan menggunakan rok mini dimana saja, kalau tidak salah sewaktu itu sedang heboh-hebohnya ada perempuan yang diperkosa di angkot (baca di sini). Mereka juga menuntut untuk menghukum pemerkosa dan pelaku asusila seberat-beratnya. Tanpa dituntut pun, pelaku asusila seperti pemerkosa itu sudah bertindak kriminal jadi secara hukum mereka memang harus ditimpa ganjaran yang sesuai. Yang sedikit aneh adalah mereka menuntut kebebasan serta hak untuk menggunakan rok mini. Tujuannya apa menggunakan baju panas tapi tidak mau dilecehkan? Kalau tidak mau dilecehkan ya cobalah berpakaian yang agak sesuai di depan umum, setidaknya itu sudah mengurangi pemicu perbuatan asusila meskipun tidak menjamin juga penjahat asusila menjadi tidak ada lagi. Karena kejahatan bukan hanya terjadi karena ada niat pelaku, tapi juga karena adanya kesempatan (dalam keterbukaan memakai hotpants dan pakaian panas yang lainnya). Bisa jadi orang yang tidak memiliki niat berbuat asusila, menjadi memiliki niat karena adanya pemicu. Tetap yang salah pelaku kejahatan, tetapi lingkungan juga ikut andil.

Honey terkadang heran pada orang-orang berpakaian panas. Ketika banyak yang melihat dengan agak nafsu, marah dianggap melecehkan. Ketika di keramaian merasa tidak nyaman karena terlalu mini. Terus bagian tubuh dibuka untuk apa? Ya untuk ditonton kan! Kalau tidak ingin, ya sudah pakai pakaian yang nyaman saja. Kalau merasa nyaman dengan “pakaian panas”, ya silahkan tapi jangan hanya menyalahkan pihak-pihak lain kalau terjadi hal-hal yang diinginkan eh yang tidak diinginkan maksudnya. Bahkan dalam Islam saja diwajibkan untuk menutup aurat itu karena Allah sayang dengan makhlukNya, kok ini para makhluk malah tidak sayang diri sendiri. Ada ada saja dunia ini…aneh aneh! Sampai di rumah pun Honey tidak bisa berhenti tersenyum dan meringis  sendiri mengingat ekspresi dua laki-laki itu.

Advertisements

About dikabeast

A complex mind in plain personality
This entry was posted in Fiction. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s