Obrolan Singkat.

“Apa saja yang kamu lakukan selama ini?

Terhenyak begitu saja mendengar pertanyaan itu!”

It’s already last November this year. Merasa sangat cepat? Tentu. Okay, sebenarnya beberapa hari terakhir di minggu  ini I’m really in a mess. Semua daftar target yang ada dalam minggu ini bahkan tidak ada 50% tercapai. And finally, I just remember “ Waktu berjalan sangat cepat. Tidak bisa kita rem. Tidak bisa kita rayu untuk berjalan lebih lambat. Tidak memedulikan kita. Hanya mau terus berjalan tanpa henti” – quote dari sebuah buku.

Tersadar begitu buruknya sifat “menunda” namun sampai sekarang masih terkungkung di daerah itu juga terjebak dalam “pelarian”. Dan obrolan dengan teman lama menyadarkan saya (semoga masih bertahan kesadaran dan semangat itu hingga esok), bahwa saya sudah terlalu merugi dengan membiarkan waktu terlewatkan begitu saja. Sedikit bercerita, obrolan dengan teman lama memang selalu mengasyikkan dan menyadarkan bahwa “Hello…kemana aja kamu?ngapain aja? Selalu lari dari masalah itu TIDAK MENYELESAIKAN masalah.” Obrolan yang cukup singkat namun kami membicarakan banyak hal, fenomena, kehidupan, resolusi, target , negara, inspirasi dan hikmah-hikmah lain yang cukup rumit (untuk saya). Obrolan seperti itu selalu membuahkan banyak pikiran yang berkecamuk dalam otak saya, masa depan, menjadi kaya, berpikir positif, ingin membuat sesuatu, ingin bergerak untuk negara, ingin menghasilkan sesuatu yang menarik, ingin merealisasikan ide dan banyaaaak yang lainnya termasuk juga pernikahan (ini bukan bahasan utama). Karena masa muda sangat sayang untuk dilewatkan tanpa berkreasi. Mendengarkan teman bercerita tentang target, kemauan, usaha dan lainnya membuat saya berpikir banyak dan banyak berpikir. Banyak sekali yang ingin saya lakukan dan saya capai di dunia ini, sukses, menjadi kaya, menjadi bermanfaat blah blah blah. Ingin menjadi ini ingin menjadi itu. Padahal Tugas Akhir saja sampai saat ini belum selesai, amanah saja berantakan mengatasinya, tarbiyah diri sendiri belum ada peningkatan, bahkan manajemen waktu saja digagalkan oleh DIRI SENDIRI, kacau!  Terlalu muluk-muluk rasanya untuk menginginkan ini dan itu yang luar biasa. Obrolan kami lebih banyak mengarah ke hal-hal tentang “sukses”  yang saya tangkap dari obrolan kami adalah salah satu ciri kesuksesan adalah kaya. Sangat setuju ketika disebutkan bahwa, jadi muslim kalau bisa harus kaya! Karena kekayaan juga merupakan salah satu sarana untuk beramal. Dan selain itu kami juga sempat mengobrolkan mengenai ibadah, ya, ibadah.  Kami sepakat bahwa semua aktivitas ketika diniatkan untuk beribadah akan berniat ibadah. Ibadah bukan hanya yang berhubungan dengan Tuhan semata, tapi juga di semua aktivitas dapat bernilai ibadah. Okay sejauh ini saya setuju dengan itu. Tapi saya kembali berpikir dan teringat sesuatu, salah satu kewajiban dan tugas manusia dalam pedoman Islam adalah menunjukkan ke jalan kebenaran .

Hai orang-orang yang beriman, rukuklah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan. Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Qur’an) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.”  (Q.S Al-Hajj : 77-78)

Maksudnya adalah muslim juga punya tanggung jawab untuk berdakwah. Tidak pandang bulu mau kaya ataupun tidak, tua ataupun muda selagi sudah menginjak masa baligh, pejabat atau rakyat, profesi apapun, usaha apapun dan saya ingat kata-kata seorang guru “Kita adalah da’i (pendakwah) sebelum apapun” . Entah mau jadi pengusaha, dosen, ataupun pegawai kita memiliki pekerjaan utama yaitu berdakwah. Disadari ataupun tidak kewajiban itu tidak akan luput dari kita, terlepas itu adalah pilihan masing-masing bagaimana cara berdakwah nya. Pertanyaannya, ada berapa orang ya yang sadar akan kewajiban ini, atau bahkan tidak sedikit yang beranggapan “Ah dakwah mah tugasnya ustadz aja!” , hey kita ini sesama muslim memiliki kewajiban yang sama terlepas ustadz atau bukan, sudah haji atau belum! (bagi yang masih merasa muslim). Ya, intinya ketika saya berada dalam obrolan tadi saya kembali menanyakan pada diri saya, boleh terpacu tapi jangan lupa juga tugas utama tadi. Untuk menunjang tugas utama dan target-target yang lain perlu yang namanya introspeksi diri/evaluasi/muhasabah tentunya yang perlu dievaluasi yang pertama kali adalah “bagaimana keadaaan ruhiyah(hubungan dengan Allah)  kita?” dan saya hanya bisa beristighfar berulang-ulang. Kemudian pertanyaan selanjutnya “bagaimana usaha kita?” “bagaimana manajemen waktu kita?” “bagaimana realisasi dari rencana kita?” “bagaimana doa kita?” “bagaimana kesungguhan kita?” “bagaimana skala prioritas kita berjalan?” . Kembali saya tidak bisa berkata apa-apa. Kemana saja saya selama ini. Terlalu banyak waktu terbuang, terlalu banyak planning yang hanya sekedar menjadi tulisan di dinding, terlalu banyak aktivitas yang mundur, terlalu banyak target yang belum tercapai karena saya sendiri. Semua masalah ada pada diri saya! Yang bahkan sering mengelak untuk memecahkan masalah itu. Hey, bangun! Hidup itu sebentar sayang! Ibaratnya mampir dan dengan mudahnya saya terlena dalam persinggahan. Speechless.

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholih dan saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran”  (Q.S Al-‘Asr : 1-3)

Manusia berada dalam kerugian ketika tidak memanfaatkan waktu dengan baik. Dan memang tidak mudah untuk memulai sebuah kebiasaan, untuk mengubah kebiasaan buruk. Tapi bukan berarti tidak mungkin. Saya, sejauh ini masih mencoba terus walaupun terkadang harus restart lagi dan lagi. Teori in spite of (walaupun), walaupun susah tapi BISA. Teringat cerita dari teman yang menceritakan ulang tentang perumpaan yang diambil dari buku 7 Habits of Highly Effective People – Stephen R Covey, mengubah kebiasaan diibaratkan Neil Amstrong bisa mendarat di bulan. Step pertama ketika pesawat jet akan lepas landas, terasa sangat berat karena harus melawan gaya gravitasi bumi, bahkan bisa jadi tidak berhasil lepas landas. Itu sama ketika awal memulai untuk mengubah kebiasaan pasti terasa sangat berat (apalagi mengubah kebiasaan ke yang jauh lebih baik), harus kuat melawan malas ataupun kebiasaan lama yang diibaratkan seperti gaya gravitasi bumi. Step kedua, ketika pesawat jet berhasil lepas landas, ada dua kemungkinan bisa terus melaju ke angkasa atau bisa jatuh kembali ke bumi entah karena kehabisan bahan bakar ataupun masih tertarik gaya gravitasi bumi. Itu sama ketika telah berhasil untuk mengawali, keistiqomahan/kesungguhan kita diuji, jika kita terus menerus melakukan kebiasaan yang baru dengan sungguh sungguh kita akan melaju terus, namun ketika kita tergoda untuk tidak istiqomah dalam menjalankan kebiasaan baru kita bisa terjatuh dan harus memulai lagi dari awal. Dan yang terakhir adalah ketika pesawat sudah sampai di bulan, artinya sudah bebas dari gaya gravitasi bumi. Itu seperti ketika kita sudah mulai ringan menjalankan kebiasaan baru dan sudah tidak merasakan berat, artinya kebiasaan baru tersebut sudah berhasil menjadi kebiasaan kita. Itulah yang masih menjadi pekerjaan rumah dan ujian bagi saya sendiri. Dari obrolan singkat bersama teman lama, saya mendapat rujukan yang cukup membantu untuk saya :

  1. Buatlah target (Apa yang ingin dilakukan dan Kapan), karena kata teman saya, membuat target gratis kok!
  2. Tulis target. Perlu juga membuat semacam Dream Book.
  3. Do It! (analisis untuk target itu apa saja yang harus dilakukan).

Sederhana. Lakukan. Pada kenyataanya sebentar lagi akhir tahun, buat resolusi terlebih dahulu. Terimakasih untuk obrolan kemarin teman lama, sahabat karib! Berbagi tidak membuat kita miskin, sampai jumpa di obrolan selanjutnya 🙂

[Hanya sedikit curahan kecil dari berkecamuknya banyak hal di dalam otak]

Advertisements

About dikabeast

A complex mind in plain personality
This entry was posted in Sharing. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s