Menjadi Perempuan (Muslimah), Belajar Kreatif dalam Keterbatasan?

Terkadang sering sekali saya berpikir, why should I be a woman? (Astaghfirullah)…karena  (dulu) menurut saya menjadi perempuan khususnya muslimah adalah sama dengan membatasi ruang gerak saya sebagai manusia.

Kenapa? Coba bayangkan seandainya menjadi seorang laki-laki, saya  tidur dimana saja (bahkan di emperan toko) rasanya tidak terlalu menjadi masalah besar, laki-laki punya kekuatan yang lebih (misal : angkat barang, lari, balapan dan lain-lain) , laki-laki diberi logika yang  jauh lebih tajam dibandingkan perempuan sehingga tidak terbebani perasaan-perasaan yang berlebihan, laki-laki bebas bertravelling kemanaaaapun dan pergi sampai jam berapapun tanpa perlu mengkhawatirkan orang yang ingin berbuat  “tidak susila” (walaupun masih harus tetap waspada sama penjahat-penjahat yang lain). Intinya, what a perfect life if I am a man!

Saya merasakan bahwa saya ini termasuk orang yang sangat menyenangi kegiatan bebas dan yang menantang. Yang membutuhkan tenaga layaknya laki-laki, entah kenapa dari dulu saya tidak terlalu suka dibatasi, tidak suka diatur… I’m just the way I am – kalau saya bilang dulu. Bahkan saya sangat amat tidak peka dan kurang perasa. Dan saya tidak suka kalau perempuan dianggap lemah apalagi dianggap remeh  (sama laki-laki terutama). Oh, please, come on saya ingin bisa melakukan apa saja!

Tapi..tunggu dulu…setelah saya paham dan mencari banyak referensi lebih jauh, gak segitunya kok kalau kita jadi muslimah. Kita pun masih bisa menjadi MUSLIMAH YANG KUAT DAN TANGGUH. Sungguh kawan, menjadi seorang muslimah itu luar biasa indah. Takdir Allah ini tidak menyusahkan saya (walaupun pada awalnya berat). Bahkan saya berani  jamin, menjadi perempuan jauh lebih menantang dan mengasyikkan. Menjadi perempuan, kita dilatih untuk berpikir lebih kreatif dalam keterbatasan yang kita miliki agar tetap sama produktifnya dengan manusia yang lain. Tapi, perlu digaris bawahi (dibold kalau perlu), batasan di sini bukanlah untuk mengekang gerak kita kawan, tapi lebih untuk menjaga kita sendiri. Analoginya, kalau melewati sebuah jembatan gantung tanpa pegangan (bukankah horror?), nah batasan itu adalah pegangan kita untuk melewati jembatan tersebut. Sungguh, saya sangat bersyukur ditakdirkan menjadi makhluk yang orang-orang sering sebut “perhiasan”, walaupun saya juga tidak suka perhiasan (gak nyambung ya).

Muslimah harus lebih kreatif dalam bertindak agar tidak lepas dari pegangan(Al-Qur’an dan As-Sunnah). Kalau perlu buat semuanya menjadi  makin menyenangkan dan asyik dengan pegangan itu. Karena Allah menciptakan perempuan bukanlah hanya untuk perhiasan, kita bisa melakukan apapun yang kita mau (sesuai pegangan ya tapi). Kita bisa naik gunung kok, kita bisa main futsal juga, basket, beladiri, travelling around, melakukan hal-hal menantang lainnya dengan lebih asyik. Mari kawan jangan batasi pikiran dan pengetahuan kita hanya karena kita selalu mengeluh akan batasan-batasan seorang muslimah. Jadikan batasan itu menjadi stimulus agar kita menjadi   jauuuuuuuuuh  lebih kreatif. Buktikan bahwa  kita patut diperhitungkan! Be creative,girls!

Advertisements

About dikabeast

A complex mind in plain personality
This entry was posted in Sharing. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s