Pesona di Ujung Timur Jawa : The Wonderful Blue Fire dan Taman Nasional Baluran

Hello. Hi. Hola. Entah harus menulis apa lagi ya untuk mendeskripsikan apa yang saya rasakan. Lihat tulisan sebelum ini, diposting pada tanggal 30 Oktober 2016. Tahun 2016 men!!! Dimana pada saat itu saya masih kinyis-kinyis belum pernah hamil dan sekarang yang juga in syaa Allah masih kinyis-kinyis tapi sudah beranak satu berumur  9 bulan. Oh My God, rasanya ingin teriak “kemana aja selama ini?!” dan jawabannya ya tidak kemana-mana, hanya (sok) tidak sempat. Narasi ini hanya intermezzo saja, karena draft tulisan kunjungan ke Kawah Ijen dan Taman Nasional Baluran sudah tersimpan lama, mangkrak dan belum selesai. Lalu kenapa kok tiba-tiba terpikir posting tulisan lagi? Sebenarnya sudah sejak lama ingin sekali posting, apalagi melihat banyak teman yang juga sering update blog mereka. Tetapi yang paling membuat saya terpacu adalah baru dua hari yang lalu saya bertemu teman lama yang benar-benar lama tidak pernah bertemu juga jarang berkabar pula. Teman main yang dulunya juga sering bertukar feedback di komentar blog. Dalam rangka apa kami bertemu? Bukan hal yang tak disengaja karena doi mengisi seminar atau bisa disebut juga kuliah umum di kampus tempat saya mengajar! And yes, he is  extremely cool! Keren, kece, menginspirasi sehingga membuat saya jadi mlungker dan tersadar akan perlunya eksistensi diri salah satunya melalui tulisan di situs pribadi (dalam hal ini saya menggunakan blog yang masih berinduk pada domain yang bukan milik saya, hehe) Siapa dia? Bisa cek di halaman pribadinya Arif Setiawan.

Baik mungkin cukup dulu intermezzonya, saya langsung ulas saja pengalaman yang sudah sekitar dua tahun yang lalu saya alami, dan mungkin ulasannya singkat, karena saya agak amnesia bagaimana menyajikan tulisan blog yang menyenangkan untuk dibaca hahaha. Sebenarnya sih karena agak lupa juga apa saja yang saya lakukan di sana, karena sudah lama sekali.

The Wonderful Blue Fire

Kunjungan ke  Kawah Ijen di Banyuwangi dan Taman Nasional Baluran kami lakukan setelah kami beristirahat sejenak lepas berkeliling kota Banyuwangi Continue reading

Advertisements
Posted in Article | Tagged , , , , , , | 2 Comments

Banyuwangi Short City Tour

Mengunjungi tempat yang baru memang selalu menyenangkan. April tahun ini, saya menghadiri acara in-law’s download alias unduh mantu di Kota Jember, yang mana cukup jauh dan memakan waktu perjalanan (serta kocek) yang tidak sedikit sehingga saya pikir sayang sekali jika hanya dilewatkan untuk hadir dalam satu acara saja. Alhasil, saya dan Alwin merencanakan untuk mengunjungi Kawah Ijen di Banyuwangi dan Taman Nasional Baluran di Situbondo, jadi acara utama bukanlah menghadiri unduh mantunya melainkan bermain-mainnya, hehehe. Kami berangkat dari Yogyakarta menggunakan bis selepas maghrib dan sampai di Jember sekitar pukul 7 pagi. Kami bertemu dengan 4 orang teman perjalanan kami yang sudah sampai terlebih dahulu di venue acara. Kami singgah beberapa saat di sana untuk beristirahat, bebersih diri, sarapan, beramah tamah dengan anggota keluarga teman dan tentunya hadir di acara teman kami (sekaligus mencicipi hidangan resepsi). Selepas dhuhur, kami berpamitan untuk berangkat ke rencana utama. Continue reading

Posted in Article, Sharing | Tagged , , , | Leave a comment

Mengintip Isi Kebun Raya Baturraden, Si Kecil Nan Kaya

kebun raya

Kebun Raya Baturaden saat ini jauh lebih dikenal semenjak selesai renovasi dan diresmikan pada Desember 2015 lalu. Saya sendiri baru tahu Kabupaten Banyumas memiliki kebun raya pun setelah berita peresmiannya dipublikasikan oleh berbagai media baik lokal maupun nasional. Kebun Raya Baturaden terletak di Desa Kemutug Lor, Kecamatan Baturaden. Jarak dari kota Purwokerto sekitar 14 Km. Jika kita lebih mengenal Wana Wisata Baturaden, maka kebun raya ini terletak tidak jauh dari gerbang masuk wana wisata sekitar 1,5 Km. Setelah saya berselancar melalui internet, mencari tahu informasi tentang Kebun Raya Baturaden, ternyata kebun tersebut sudah mulai digagas pada saat acara Penutupan Jambore Nasional tahun 2001 dan penanaman perdana dilakukan pada tahun 2004 [1].

Berhubung saya belum pernah berkunjung ke sana, saat sepupu saya datang ke Purwokerto pada bulan Maret lalu, saya langsung mengajaknya ke Kebun Raya Baturaden. Dari rumah saya berangkat mengendarai motor dengan waktu tempuh kurang lebih 30 menit. Kami melalui gerbang wana wisata dan membayar tiket masuk terlebih dahulu. Tidak lama kemudian, kami sampai di Kebun Raya Baturaden.

1 Gerbang

Gerbang Masuk

Continue reading

Posted in Article, Sharing | Tagged , , , | Leave a comment

Istri Paruh Waktu atau Hamba Sepenuh Waktu?

“…bahwa peran seorang wanita tetaplah bertumpu pada tiga pilar utama: mar’atus shalihah (wanita shalihah), zaujatu muthi’ah (istri yang taat) dan ummul madrasah (bunda peradaban).”
It’s really not easy…semoga mampu 🙂

Dewi Nur Aisyah

 “There is no one perfect way to be a good mother. Each situation is unique. Each mother has different challenges, different skills and abilities, and certainly different children. What matters is that a mother loves her children deeply…” (Elder M. Russel Ballard)

Sudah beberapa kali saya mendapat pertanyaan yang sama dari akhwat-akhwat single. Seputar kekhawatiran mereka bagaimana mengatur keinginan menuntut ilmu atau berkarya seorang muslimah dengan kewajibannya sebagai seorang istri dan ibu. Menurut saya itu bukan pilihan yang saling meniadakan. Namun kedudukan yang kehadiran kedua atau ketiganya dapat meningkatkan derajat kemuliaan. Lalu pilihan mana yang harus saya ambil? Tentu jawabannya unik bagi setiap muslimah karena kondisi setiap muslimah tidaklah sama.

Perlu saya garis bawahi disini bahwa peran seorang wanita tetaplah bertumpu pada tiga pilar utama: mar’atus shalihah (wanita shalihah), zaujatu muthi’ah (istri yang taat) dan ummul madrasah (bunda peradaban).

View original post 2,017 more words

Posted in Sharing | Leave a comment

Sepenggal Romantisme di Tegal Panjang, Papandayan

Berat badan yang semakin bertambah tidak menyurutkan keinginan saya untuk menyambangi gunung, (dengan catatan gunungnya tidak terlalu tinggi). Awal 2016, tepatnya di bulan Januari saya dan Alwin melakukan perjalanan ke Gunung Papandayan, Garut sekitar 20 hari setelah pernikahan kami. Anggap saja a romantic hike, walaupun pada kenyataannya tidak seperti itu. Rencana ini tercetus secara spontan dalam rangka pendekatan dan pengakraban satu sama lain, karena sebelum menikah kami belum saling mengenal secara mendalam ditambah lagi setelah menikah kami harus terpisah jarak, hiks (curhat). Kami putuskan untuk berangkat bersama-sama dari Purwokerto, dimana sebelumnya sempat terlintas untuk berangkat masing-masing dan bertemu di Garut. Ternyata keputusan tersebut sangatlah tepat, karena tidak ada bis dari Purwokerto yang langsung menuju Garut.

Jum’at (15/01) malam kami berangkat dari Terminal Purwokerto sekitar pukul setengah sepuluh menggunakan bis jurusan Bandung. Tujuan kami adalah turun di Tasikmalaya dan untuk mencapai Garut, kami naik elf turun di Terminal Guntur. Kami tiba di Terminal Guntur pagi hari selepas jam enam, sempat bertemu beberapa pendaki dengan tujuan yang sama. Di Terminal Guntur, kami sarapan dan bersih-bersih badan kemudian langsung bergegas menuju Cisurupan menggunakan angkutan berwarna putih, dilanjutkan ke Camp David dengan menyewa dua ojek.

0

Continue reading

Posted in Sharing | Tagged , | 5 Comments